JOGJA – Membantu mahasiswa mengembangkan, merencanakan karir, dan mendapatkan gambaran dunia kerja, Career Development Center dan Alumni (CDC), Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), mengadakan Seminar Pelatihan Karir. Diikuti 173 mahasiswa dan alumni UAD. Dilaksanakan di Kampus Utama UAD, di Tamanan, Banguntapan, Bantul, Rabu (24/7).

Kepala Bidang CDC Bimawa UAD Hendy Ristiono SFar MPH Apt menjelaskan kegiatan ini memberikan bekal strategi seperti apa setelah lulus, dan bagaimana merencanakan menghadapi dunia kerja.

“Kita perlu mengetahui bagaimana sebenarnya perencanaan karir yang tepat, karena masa depan yang cerah selalu menjadi impian setiap orang, melalui workshop ini diberikan tips dan trik untuk mewujudkan mimpimu menjadi nyata. Karir perlu direncanakan sedini mungkin dan secermat mungkin,” ungkapnya.

Alumni Teknik Informatika UAD 2001 dan Owner Aman Sejahtera Computer (ASC) Wahyu Kurniawan ST MT mengatakan bisnis, karir, dan spiritual harus berjalan beriringan. Bekerja dan berbisnis itu harus berdasarkan passion sehingga keinginan yang kuat itu mampu memotivasi kita.

“Misalnya seperti keinginan mandiri, membantu orang tua, atau ingin menikah. Intinya segala hal yang bisa mendorong kita untuk berani memulai bisnis dan menjadi pengusaha,” ujarnya.

Menurut Wahyu, menekuni bisnis atau karir berdasarkan minat, kesenangan, atau hobi akan lebih tahan lama dibandingkan hanya ikut-ikutan. “Hobi makan, bisa bekerja atau membuka bisnis di bidang kuliner. Gamer, membuat game,” katanya.

Direktur Kemahasiswaan di Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti Dr Didin Wahidin MPd menyampaikan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia harus bersaing dengan negara lain.

“Jangan sampai kita merasa sudah baik, padahal bangsa lain sudah jauh lebih baik. Kondisi dunia sekarang sedang seperti apa, kita harus paham betul. Tidak hanya kita harus lebih baik dari Jumat, tapi harus tahu sudah sejauh apa kemajuan orang lain,” terangnya.

Daya saing suatu bangsa ditentukan oleh Indeks kreativitas, yang melahirkan kekuatan inovasi. Ke depan, potensi Sumber Daya Alam (SDA) tidak lagi menentukan daya saing suatu bangsa. Jika SDA melimpah tapi SDM lemah, akhirnya akan diambil oleh pihak negara lain. “Disinilah peran dunia pendidikan, yang memiliki andil 70% terhadap kreativitas dan daya inovasi seseorang. Iklim kreativitas dan inovasi harus ditumbuhkembangkan di kampus,” jelasnya.

Didin menuturkan, di Era Revolusi Industry 4.0 dan Society 5.0. Pekerjaan yang dulu ada, sekarang sudah tidak ada lagi. Pekerjaan apa yang ada besok, tidak bisa kita ramalkan saat ini.

“Zaman berubah sangat cepah. Era Disrupsi Teknologi adalah saat pekerjaan manusia digantikan oleh Artificial Intelligence,’’ katanya.

Pesaing bukan hanya manusia lain, tapi kita bersaing dengan Artificial Intelligence. Otomatisasi dan robotisasi membuat lapangan kerja konvensional semakin sempit.

Sistem dan kualitas pendidikan harus bisa mengimbangi perkembangan zaman. Saat ini Kemenristekdikti melalui Belmawa lebih mendorong mahasiswa untuk menjadi wirausahawan.

Menurut Didin, sistem dan kualitas pendidikan harus bisa mengimbangi perkembangan zaman. Apa yang dibutuhkan dunia usaha sekarang?

“Kompetensi yang dibutuhkan adalah people skills, problem solver, communication skills, leadership, dan team work. Jika hard skills adalah kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan, maka soft skills adalah sisi kemanusiaan seorang manusia,” katanya. (*/iwa/er)