JOGJA – Pasar modal dinilai sebagai salah satu wahana investasi yang menjanjikan. Tapi belum banyak warga Jogjakarta yang memilihnya. Keberadaan kantor baru Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan DIJ diharapkan bisa menjembataninya.

Sebagai orang yang lama berkecimpung di pasar modal,  Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti paham betul keuntungan investasi di sana. Sebelum menjadi Wakil Wali Kota Jogja pada 2006 silam, dan akhirnya menjadi Wali Kota, HS sempat 16 tahun berkiprah di dunia pasar modal melalui perusahaan sekuritas.

Menurut HS, ada persamaan kondisi pasar modal dulu dan sekarang. Yaitu masih banyak masyarakat yang belum paham tentang investasi di pasar modal. “Keprihatinanya itu masih kekurangtahuan masyarakat soal investasi pasar modal, kalau bank semua tahu,” kata HS disela pembukaan gedung baru BEI Perwakilan DIJ di Jalan Mangkubumi No 84 pekan lalu,

Karena itu HS berharap BEI bisa memberikan literasi pasar modal kepada masyarakat di Jogjakarta. “Kami berharap dengan hadirnya BEI di Jogjakarta ini bisa memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat Jogjakarta tentang arti pentingnya investasi di pasar modal,” ucap HS.

HS melanjutkan, merupakan sebuah kebanggaan dan tantangan bagi kami untuk terus meningkatkan motivasi dalam membangun perekonomian daerah melalui kehadiran lembaga keuangan yang mampu menjawab dinamika zaman saat ini.

“Saat ini dinamika serta gaya hidup masyarakat modern akan kebutuhan jasa keuangan yang profesional, cepat, dan terpercaya semakin meningkat,” katanya.

Demikian pula dengan semakin beragamnya produk jasa keuangan yang ditawarkan. Sangat bermanfaat guna menjawab ekspektasi masyarakat dalam mempercayakan pengelolaan dana keuangan.

“Mudah-mudahan dengan gedung baru ini aktivitas perdagangan yang dijalankan semakin intensif, mampu menjangkau seluruh kalangan untuk terlibat aktif dalam perdagangan saham,” tuturnya.

Tapi HS juga berpesan, berdasarkan pengalamanya, investasi berasal dari kelonggaran keuangan yang dimiliki. Bukan dari hutang. Hal itu pula yang perlu dipahamkan ke masyarakat. “Jangan hutang untuk berinvestasi, bisa ngelu meneh,” ujarnya disambut tawa.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen berharap dengan adanya Gedung milik BEI sendiri, maka program-program yang dibuat terkait dengan sosialisasi terhadap masyarakat Jogjakarta ini bisa lebih intensif. Sehingga masyarakat bisa mengetahui hal-hal terkait dengan pasar modal Indonesia.

“Kantor perwakilan ini juga diharapkan bisa menjadi pusat informasi terkait pasar modal, untuk pusat kegiatan edukasi perlindungan investor,”ujarnya.

Kepala Perwakilan BEI DIJ Irfan Noor Riza menambahkan, jika dilihat total jumlah penduduk Indonesia, investor pasar modal baru 0,6 persen atau sebanyak 954 ribu investor pada Mei 2019. Di DIJ sendiri tercatat ada 40.910. “Tapi itu sudah naik signifikan, saat kami datang pertama pada 2009 investor baru 900 orang,” ungkap Irfan seraya menargetkan tahun ini terdapat penambahan 10 ribu investor baru.

Yang membanggakan, lanjut dia, mayoritas investor merupakan kalangan milenial. Rentang usia 20-30 tahun. Untuk menjaring sebanyak mungkin investor, pihaknya melakukan simplifikasi pembukaan rekening. “Yang sebelumnya berminggu-minggu, kini paling lama dua jam dan dengan modal awal Rp 100 ribu,” tuturnya.

Selain wahana investasi perorangan, pasar modal juga bisa diperuntukan untuk mencari tambahan modal perusahaan. Di Jogjakarta, berdasarkan catatannya, saat ini baru ada tiga perusahaan yang sudah melakukan listing atau pencatatan saham di bursa efek. Ketiganya adalah hotel.

Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM itu menjelaskan, dengan  initial public offering (IPO) atau melepas saham ke pasar modal, perusahaan akan mendapatkan dana segar dari saham yang dijual. Dana tersebut yang bisa digunakan untuk membiayai kegiatan bisnis perusahaan. “Seperti hotel, kemungkinan mau mengembangkan hotel atau membangun hotel baru, bisa dapat modal dari IPO,” tuturnya. (**/pra/fj)