JOGJA – Berada di ujung selatan Kota Jogja, Kelurahan Giwangan, Umbulharjo dianugerahi hasil bumi yang melimpah. Sebagai wujud syukur, warga menggelar upacara adat sedekah Karangkitri untuk pertama kalinya.

Kegiatan ini merujuk dari Kelurahan rintisan budaya untuk melestarikan dan menjaga warisan adat nenek moyang. Lurah Giwangan, Anggit Syafrudin mengatakan, sedekah karangkitri merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat bisa memanen hasil bumi dari tanaman sayur dan buah-buahan yang ditanam di setiap pekarangan rumah warga. “Alhamdulillah tanamannya itu bisa berbuah dan dipanen, rasa syukurnya disitu,” kata Anggit di sela acara Minggu (28/7).

Dalam pawai budaya yang diikuti oleh kontingen per Rukun Kampung itu membawa empat gunungan dari tiga Kampung se-Kelurahan Giwangan. Dengan potensi yang berbeda-beda. Di antaranya dari RK Mendungan misalnya karena berpotensi pada tanaman hasil bumi maka gunungan berupa sayur dan buah-buahan. Kemudian di RK Giwangan karena banyak masyarakat sebagai pelaku usaha maka gunungan berupa makanan yang disajikan sesuai dengan produknya. Berbeda dengan RK Ponggalan, dimana karena kampung ini memiliki potensi pada pabrik alumunium sehingga gunungan yang dibuat sesuai dengan potensinya seperti wajan, panci, teflon, dan lain sebagainya.

“Jadi ada yang ditemukan amplop atau voucher mi ayam Tumini. Karena selain orang yang menanam di sini siapapun yang mencari rezeki lancar kemudian memberikan sedekah kepada masyarakat dengan harapan Tuhan memberikan lagi yang lebih,” jelasnya.

Kepala Seksi Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan Kota Jogja,Tri Sotya Atmi menyampaikan, kegiatan yang menggunakan Dana Keistimewaan (Danais) DIJ ini adalah dalam rangka mendorong masyarakat agar melestarikan potensi lokal di setiap wilayah. Dengan tujuan guna memberikan motivasi dan edukasi terhadap generasi muda agar lebih memahami dan semakin mencintai budaya bangsanya sendiri.”Ini terutama upacara adat yang harus kita jaga dan uri-uri, di tengah perkembangan jaman yang semakin maju,” jelasnya. (cr15/pra/er)