SLEMAN – Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah yang dialami sebagian petani di wilayah Sleman. Kemarau panjang mengakibatkan lahan pertanian mengering. Saking keringnya, lahan produktif pun tak bisa ditanami. Pun dengan tanaman palawija. Yang menjadi alternatif pengganti padi saat kemarau. Tetap sulit tumbuh.

Dusun Gunungsari, Sambirejo, Prambanan termasuk salah satu wilayah paling kering. Demi menyambung hidup, petani setempat menanami lahan pertanian dengan umbi-umbian. Seperti kunyit, jahe, atau ubi jalar. “Itu pun kalau bisa hidup. Karena air sangat terbatas,” keluh Keman, petani setempat, Minggu (28/7).

Kakek 70 tahun itu tak bisa berharap banyak pada lahan seluas 500 meter persegi miliknya. Apalagi kondisi itu terjadi sejak empat bulan lalu. Sampai Minggu tak ada perubahan. Lahan pertanian malah semakin kering.

Ketela pohon menjadi satu-satunya tanaman yang bisa tumbuh cukup baik. Namun nahas bagi Keman. Ketela pohonnya keburu habis diserang tikus sebelum masa panen.

“Ya semoga saja segera turun hujan,” harapnya. Sebelum ada hujan Keman enggan menanami lahannya lagi. Daripada merugi. Rugi biaya dan tenaga.

Kondisi serupa dialami Sumirah, 60. Lahan seluas satu hektare yang dia garap hanya bisa sekali panen dalam setahun. Lahan itu ditanami padi gogo. Bagi Sumirah, palawija bukan lagi tanaman alternatif saat kemarau. Karena tak bisa tumbuh di lahan yang dikelolanya. Karena terlalu kering, lahan itu pun sampai retak. Sehingga tak mungkin ditanami palawija. ”Pernah ada yang coba tanam kacang, tapi tetap tak ada hasilnya,” ungkap Sumirah.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, total lahan produktif yang puso selama kemarau ini mencapai 148 hektare lahan.

Kepala DP3 Sleman Heru Saptono mengatakan, wilayah Prambanan menjadi kawasan paling terdampak kekeringan. “Lokasinya di perbukitan,” katanya.

Jika hujan tak segera turun, Heru memprediksi, sekitar 50 hektare lahan pertanian lainnya akan mengalami gagal panen. Seperti di wilayah Selomartani, Kalasan. Yang tiap tahun selalu dilanda puso.

Sumur dalam yang dibangun pemerintah di sisi utara Selokan Mataram pun tak lagi menjadi solusi. Menyedot air selokan dengan pompa menjadi satu-satunya cara yang bisa dilakukan petani.

Selain faktor musim, Heru menilai petani salah memprediksi cuaca. “Beda dengan tahun lalu, kemarau masih ada hujan. Kalau tahun ini memang benar-benar kering,” katanya. (har/yog/rg)‎