JOGJA – Eksistensi tradisi ritual ruwatan kian dilupakan akibat tergilas zaman. Hingga saat ini, tradisi itu masih dipergunakan bagi segelintir orang Jawa, sebagai sarana pembebasan manusia atas dosanya dan kesalahan yang berdampak pada kesialan di dalam hidupnya.

Tradisi yang juga menjadi salah satu kearifan lokal budaya Jawa ini diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Jogja Sabtu malam (27/7). Menggunakan Dana Keistimewaan (Danais) DIJ. Joko Santosa selaku Inisiator kegiatan, yang juga menjadi pengruwat menjelaskan, di era modern ini, anak muda tengah tercerai berai dengan budaya lokalnya. “Gadget atau gawai itu tidak masalah. Cuma kalau disikapi secara berlebihan, mereka akan terlelap dengan kenyamanan sehingga mereka lupa dengan budayanya”, paparnya.

Joko merasa skeptis karena sedikitnya peserta yang berminat mengikuti tradisi ruwatan, padahal kegiatan ini bisa diikuti secara gratis. Dia berharap pendidikan budaya dapat lebih diintensifkan di sekolah-sekolah.

“Kondisinya kini memperihatinkan. Walaupun gratis peserta tidak sampai ratusan, di sini ada 35 yang diruwat. Padahal kalau di tempat lain biayanya mahal, Rp 1 juta sampai Rp 2 juta bahkan ratusan juta. Hal ini menunjukkan banyak orang yang tidak menahu tentang ruwatan”, jelasnya.

Oleh sebab itu, dengan dihelatnya acara ini, Joko berharap kegiatan dapat menjadi pengingat kepada masyarakat akan akar budayanya terutama kebudayaan Jawa. “Ini juga menjadi ajang untuk berbagi dengan liyan. Sembari mengingatkan orang pada budayanya, terutama kebudayaan Jawa”, ucapnya.

Lakon Murwa Kala dalam prosesi tradisi ruwatan Minggu, dibawakan oleh Dalang Ruwat Ki Suseno Aji dan Pranata Gendhing Ki Pardiman Djoyonegoro sebagai pengiring gamelannya. Joko menjelaskan, orang yang terlahir dengan sukerta, dalam kepercayaan Jawa, harus menjalani ruwatan untuk membebaskan diri dari kekuatan buruk yang mengelilingi dirinya. (cr16/pra/er)