SLEMAN – Sebanyak 35 orang dari Jogjakarta dan Klaten mengikuti pelatihan mengasah pisau. Diadakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Prambanan.

Bertempat di SD Muhammadiyah Boarding School (MBS) Prambanan. Pelatihan bertujuan mengedukasi masyarakat yang menjadi juru sembelih hewan kurban pada saat Idul Adha.

Ketua panitia pelatihan asah pisau Didik Riyanta mengatakan, selama ini belum banyak yang paham cara mengasah pisau yang benar. Kebanyakan fokus dengan cara menyembelih.

“Kami lihat banyak yang sudah bisa menyembelih. Tapi kalau untuk mengasah pisau masih belum banyak yang paham,” kata Didik (28/7).

Dengan pisau yang tajam akan mempercepat proses penyembelihan. Selain itu, juga merupakan bagian dari mengasihi hewan kurban. “Karena pisau tajam, jadi bisa cepat untuk menyembelih. Sesuai syariat dalam menyembelih,” kata Didik.

Sekretaris Juru Sembelih Halal (Juleha) DIJ Purjaka menjelaskan pisau menjadi faktor utama menyembelih hewan kurban. Sebanyak 60 persen keberhasilan penyembelihan ditentukan ketajaman pisau.

“Sara mengasah pisau itu sangat penting, 60 persen sukses menyembelih itu ditentukan pisau, 20 persen skill, 20 persen lagi teknik merobohkan hewan,” kata Purjaka.

Purjaka mengatakan, untuk mengasah pisau harus ditentukan terlebih dahulu fungsinya. Sebab, beda fungsi maka beda cara pengasahan.

Dia mencontohkan, untuk pisau yang digunakan untuk menyembelih, saat mengasah harus memperhatikan sudut pengasahan. Tidak boleh melebihi sudut 30 derajat. Untuk pisau yang digunakan untuk memotong tulang, sudut saat mengasah harus lebih dari 30 derajat.

Selain itu, alat untuk mengasah juga harus dalam kondisi bagus. Sebab memengaruhi ketajaman pisau. Jika masyarakat menggunakan batu asah, maka batu tersebut harus selalu dalam keadaan basah. “Jangan waktu mau dipakai baru dibasahi. Itu merusak pisau,” ingat Purjaka.

Selain bisa menggunakan batu, mengasah juga bisa menggunakan honing. Yaitu alat pengasah yang memiliki bentuk seperti obeng.

Purjaka mengingatkan agar juru sembelih mesti berhati-hati saat menggunakan asahan ini. Karena ujungnya tajam dan pisau mungkin saja tergelincir dan melukai tangan.

“Jika menggunakan honing, akan membuat pisau cepat tajam. Sehingga proses penyembelihan juga cepat. Tapi masyarakat yang belum terbiasa wajib berhati-hati,” kata Purjaka.

Salah seorang peserta pelatihan Priyono, 43, warga Tirtomartani, Kalasan mengaku kesulitan menerapkan cara mengasah tersebut. Biasanya dia hanya asal mengasah saja. “Yang penting asal tajam,” kata Priyono yang sering menyembelih hewan kurban. (har/iwa/fj)