JOGJA – Fenomena perundungan atau bully menjadi momok serius yang dapat mengancam kehidupan anak. Apabila tak tertangani, dampak psikologis dari kekerasan akan terus berlanjut hingga anak menjadi dewasa dan menimbulkan berbagai persoalan baik dalam interaksi sosial, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari.

Pakar psikologi klinis, Romo Yulius Sunardi mengungkapkan, bully adalah perilaku agresif atau serangan yang sengaja dilakukan untuk menimbulkan rasa ketidak nyamanan kepada orang lain. “Jadi ada intensi untuk menimbulkan luka, baik verbal maupun fisik. Kalau dilakukan berulang kali dan sengaja baru bisa dikatakan bully”, jelasnya dalam Talkshow Anti Bullying di RS Panti Rapih Senin (28/7).

.Penyebab perilaku bully, menurut dia bersumber dari persepsi yang keliru dari si anak yakni persepsi yang menganggap dirinya lebih superior dan berkuasa. Akibatnya anak akan menilai orang lain lebih rendah dari dirinya.

Untuk itu, orang tua diharapkan dapat memahami ciri anak yang berpotensi menjadi pelaku perundungan. Menururut dia, anak yang memiliki agresifitas yang lebih tinggi dari orang lain berpotensi menjadi pelaku bully. “Bisa diamati dari hubungan dengan teman-teman dekat atau saudaranya, apakah dia suka menyakiti orang lain”, bebernya.

Sedangkan individu yang bisa menjadi korban bully adalah individu yang bersifat pasif, merasa rendah diri, dan sensitif. Begitu juga individu yang berasal dari kelompok minoritas.

Dijelaskan, kunci mencegah bully adalah membangun karakter asertif pada anak-anak. “Karena pelaku bully cenderung agresif dan korbannya cenderung pasif. Kita perlu mendorong anak untuk memperhatikan kepentingan diri dengan penuh tanggung jawab. Buat anak menyadari bahwa dirinya berharga. Serta mendorong anak untuk menghargai kepentingan orang lain. Ini adalah karakter yang asertif”, tambahnya.

Maria Ratih Maharani selaku psikolog RS Panti Rapih menjelaskan peran penting orang tua untuk menangani persoalan bully ini. Menurut dia banyak orang tua salah menentukan sikap ketika mengetahui anaknya menjadi korban maupun pelaku bully.

“Orang tua kebanyakan masih bersikap reaktif. Misalnya ada anak cowok yang menangis habis di-bully. Ortunya bilang, masak cowok kok menangis? Atau malah ada yang disuruh membalas pelakunya, ini sebenarnya bisa mendorong transformasi dari korban menjadi pelaku bully”, ungkapnya.

Lebih jauh, reaksi orang tua akan menentukan penilaian anak kepada dirinya dan lingkungan. Maka setiap anak harus memiliki keyakinan bahwa tempat teraman ketika anak mereka merasa sedih, takut, dan bersalah adalah bersama orang tua.

“Dengarkan ceritanya. Tanyakan apa yang buat kamu menangis? Apa yang membuat kamu sedih?. Orang tua harus memiliki rasa empati supaya dapat memberikan jaminan rasa aman dan kenyamanan untuk anak”, tambahnya. (cr16/pra/er)