JOGJA – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIJ mengklaim kualitas air sungai di DIJ mengalami peningkatan. Berdasarkan indeks kualitas air (IKA), capaiannya mencapai 40,25 dari target awal 34,2.

Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran Air dan Sungai DLHK DIJ Ninik Srihandayani menyebut salah satu faktornya karena perbaikan pola masyarakat. Terutama dalam pengolahan limbah rumah tangga.

“Kalau kategori pencemarannya hanya ringan dan sedang. Dominasinya bakteri e-coli yang artinya dari limbah kotoran manusia maupun ternak,” jelasnya, Minggu (28/7).

DLHK DIJ melakukan pemantauan sepuluh sungai di DIJ. Meliputi sungai Code, Gajahwong, Winanga, Bedog, Konteng, Kuning, Tambakbayan, Oyo, Belik dan Bulus.  Dari seluruhnya, hanya sungai Tambakbayan yang mengalami penurunan.

Berdasarkan IKA, sungai ini memperoleh 35 pada 2018. Jauh menurun dibanding 2017, dimana IKA mencapai 40. Pencapaian IKA terbaik justru 2016, mencapai 31,6. Ninik menuturkan peningkatan terjadi karena adanya peningkatan pencemaran sungai.

“Faktanya masih ada beberapa rumah yang pembuangan kamar mandinya langsung ke sungai. Padahal harus diolah terlebih dahulu. Untuk Tambakbayan bisa jadi karena adanya peningkatan hunian di kanan kiri sungai,” ujarnya.

Dominasi e coli menjadikan beberapa sungai di Jogjakarta tidak layak konsumsi. Walau berada di atas baku mutu, namun ada penurunan signifikan. Ninik mencontohkan e coli tinja dari 42 ribu, menjadi 40,5 ribu dan kini 10,1 ribu. Sementara bakteri colliform dari 336 ribu pada 2016 menjadi 30,2 ribu pada 2018.

“Sungai-sungai di DIJ itu masuk dalam kelas II, peruntukannya hanya untuk perikanan dan pertanian,” katanya.

Ketua Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) DIJ Endang Rohjiani menuturkan setiap aliran sungai memiliki kondisi yang berbeda. Hanya saja rerata pencemaran dimulai dari perbatasan Sleman dan Kota Jogja. Walau kondisi ini tidak sepenuhnya buruk untuk satu aliran sungai.

Dia mencontohkan kualitas Sungai Winanga. Berdasarkan data FKWA, tingkat pencemaran di sungai ini tergolong tinggi. Diawali dari adanya kandang babi dan sapi di Sudagaran Tegalrejo. Ditambah adanya pabrik tahu di sisi selatan.

“Kalau di Sleman ada di bawah kawasan Rusun Jatirejo. Sungai kawasan itu tercemar sedang. Walau saat ke selatan membaik karena ada mata air dan pepohonan yang mengembalikan kualitas air. Sayangnya masuk ke kota tercemar lagi,” jelasnya.

FKWA menggunakan metode biolitik untuk memeriksa kualitas air sungai. Berupa pemanfaatan biota tidak bertulang sebagai indikator pencemaran. Hasilnya untuk jenis udang tidak bisa tumbuh optimal. Terbukti dari panjang sungut yang abnormal.

“Udang kecil itu tidak bisa hidup jika ada polutan. Hasil metode sungutnya tidak panjang. Justru kami menemukan banyak ikan sapu-sapu di kawasan Serangan. Ikan ini bisa hidup dalam kondisi tercemar, bahkan ikan ini juga makan polutan,” ujarnya. (dwi/pra/by)