SLEMAN – Apa hubungan antara sepak bola dan sepeda motor? Tanyakan itu ke Pelatih PSS Sleman Seto Nurdiyantara. Ternyata dua-duanya menjadi kegemaran, hobi, dan hiburannya.

Ya, pria 45 tahun itu dikenal piawai main si kulit bundar dan telah melanglang buana ke sejumlah klub. Termasuk pernah menjadi bagian dari skuad tim nasional Indonesia. Puncak karirnya hingga saat ini adalah pelatih, tim Liga 1 PSS Sleman.

Nah, di balik kesibukannya sebagai pelatih, Seto memiliki hobi yang tak kalah mentereng. Mengurusi motor. Tentu saja bukan motor sembarangan. Kegemarannya tentang motor-motor kustom tua.

Saat ini pria asal Kalasan itu memiliki dua motor dengan umur yang cukup uzur. Yakni Honda GL 100 dan motor kustom hasil “kawin silang” GL Pro dan Honda Tiger. Motor kustom itu memiliki rangka bodi Honda Tiger. Sementara untuk mesinnya menggunakan mesin Honda GL Pro. “Kalau pas libur latihan, saya sering muter-muter pakai motor itu. Untuk sekadar hiburan dan refreshing,” katanya,Senin (29/7).

Motor itu dia beli dari temannya beberapa tahun yang lalu. Harganya Rp 12 juta. Saat itu kondisi motor memang sudah jadi dan siap pakai. Seto tak perlu menunggu waktu lama untuk membangun motor tersebut.

Memiliki hobi motor tua juga membuat Seto harus ekstra sabar. Beberapa kali motor kesayangannya itu mogok atau bermasalah saat dikendarai. Kendati demikian, Seto tetap menikmati hobinya itu. “Ya kalau sekadar memperbaiki yang kecil-kecil seperti busi, rantai, atau ganti ban saya bisa,’’ ujarnya.

Untungnya, motor yang dimiliki Seto tak membutuhkan perawatan yang terlalu sering. Paling, motor kustom yang dia miliki itu dibawa ke bengkel untuk dilakukan servis setiap dua atau tiga bulan sekali.

Seto sebenarnya masih memiliki keinginan untuk memiliki Harley Davidson. Namun, hingga kini belum mendapatkan izin dari sang istri. “Paling nanti saya beralih ke Vespa saja,” tandasnya.

Selain itu Seto juga memiliki kenangan dengan Honda Grand keluaran 1994. Motor itu adalah motor pertama yang dia hasilkan dari bermain sepak bola. Namun, awal 2000an motor itu ia jual. “Sebenarnya menyesal juga mas, karena motor itu penuh sejarah,” ujar Seto.

Jika motor itu masih ada, Seto memiliki keinginan untuk membelinya kembali. (cr12/din/zl)