PURWOREJO – Kerajinan mebel bambu yang dikembangkan warga di Kecamatan Bener, Purworejo, kalah bersaing dengan produk mebel rumah tangga pabrikan. Dalam tiga tahun terakhir, omzet penjualannya menurun. Mereka pun banyak yang berproduksi menjelang Lebaran saja.

Salah satu perajin, Soleh, di Desa Ketosari, Kecamatan Bener mengungkapkan, seiring booming belanja digital, produktivitas usahanya menurun. Tercatat dari 8-9 orang pekerja yang membantunya dulu, kini tinggal tiga orang saja.  “Tidak setiap hari barangnya laku,” kata Soleh saat ditemui di bengkel usahanya, Minggu (4/8).

Diakui memang belum banyak memanfaatkan dunia internet untuk menjual produknya. Kalaupun ada yang memajang gambar karyanya, bukan dia yang memasang sendiri, tapi orang lain.  “Dan yang dipajang itu belum tentu pembelinya datang ke tempat usaha saya,” tambahnya.

Dibanderol mulai harga terendah Rp 800 ribu per unit mebelnya, Soleh sudah berusaha mengikuti perkembangan model kursi atau pun meja. Ada beberapa mebel yang harganya jauh di atas harga terbawah itu, namun untuk kalangan tertentu.

“Sebenarnya kami  bisa menyesuaikan keinginan dari para pembeli. Tapi kalau ada pembeli, mereka lebih memilih barang yang sudah ada saja,” katanya.

Di tengah ketidakpastian pembelian itu, Soleh maklum jika banyak rekannya yang memilih gulung tikar atau membuka usaha baru. Kalaupun bertahan, mereka harus bisa mendiversifikasi usaha atau membuat bentuk lain dari bahan bambu.

“Seperti saya, sekarang lebih laku kerai dan anyaman bambu dibanding kursi. Seminggu setidaknya dua kali mengirim ke Jawa Timur untuk memenuhi pesanan,” tambahnya.

Camat Bener Agus Widiyanto mengungkapkan, sentra kerajinan bambu di wilayahnya relatif banyak. Sebagian besar mereka membuat anyaman bambu berupa besek. Barang yang diproduksi tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan lokal saja.  “Banyak besek yang dikirim ke luar daerah,” kata Agus.

Khusus untuk kursi, ada dua desa yang selama ini dikenal sebagai gudangnya, yakni Desa Kalijambe dan Desa Ketosari. Dia melihat selama ini para perajin telah memiliki pasar dan menjual produksinya secara langsung. “Kebetulan yang berusaha ada di pinggiran jalan utama, sehingga mudah diketahui calon pembeli,”  tambah Agus. (udi/laz/er)