JOGJA – Melakukan aksi terjun payung dengan lanskap pendaratan perkotaan bukan perkara mudah. Tapi enam penerjun dari TNI Angkatan Udara beraksi dari ketinggian lima ribu kaki. Keenam penerjun beraksi dengan mulus mendarat di tengah Lapangan Sidokabul, Sorosutan, Umbulharjo Minggu pagi (4/8).

Salah satunya adalah Serka Endang Trilibatra Elma Rahmawati. Mengenakan payung parasut klasik berwana hijau, Serka Elma, sapaannya, meliuk-liuk di udara. Setelah loncat dari pesawat Cessna dia segera mencari titik pendaratan. Alam ternyata mendukung aksinya. Cuaca cerah dan kecepatan angin rendah mempermudah pendaratannya.

“Tadi terjun dari ketinggian lima ribu kaki. Lalu parasut mengembang di ketinggian tiga ribu kaki. Tidak ada kendala berarti karena cuaca dan angin sangat mendukung,” jelasnya ditemui usai mendarat di Lapangan Sidokabul.

Diakuinya, terjun payung dengan lanskap pendaratan kota menjadi tantangan tersendiri baginya. Mulai dari kabel listrik hingga bangunan tinggi menjulang. Ditambah lagi, kawasan pendaratan adalah jalur sibuk lalu lintas udara.

Walau begitu bukan berarti perempuan kelahiran Sambas Kalimantan Barat 17 Oktober 1979 ini tak bisa merampungkan tugasnya. Dengan teliti dia mendekati titik aman pendaratan. Termasuk mengatur pergerakan sesuai dengan arah angin berhembus.

“Mendarat harus berlawanan dengan arah angin. Sehingga tadi sempat berputar-putar dulu untuk mencari titik pendaratan. Tantangannya karena dalam kota padat jadi benar-benar harus tepat mendarat di zona, tidak boleh keluar dari area,” katanya.

Perempuan yang bertugas di Akademi Angkatan Udara (AAU) ini mengakui awalnya terjun payung bukanlah bidangnya. Hanya saja kala itu Serka Elma mendapat amanah dari komandannya. Akhirnya pada 2001, dia resmi menjadi salah satu penerjun payung TNI AU.

Perjalanannya sebagai penerjun payung cukup berliku. Pada rentang 2004 hingga 2010 dia sempat berhenti. Penyebabnya dia baru saja membina rumah tangga. Hingga akhirnya dia aktif kembali 2010 hingga sekarang.

“Minta izin suami, akhirnya 2010 on lagi sampai sekarang. Dulu awalnya perintah tapi lama kelamaan jatuh cinta dengan terjun payung,” kenangnya.

Keaktifan Serka Elma tak hanya sebagai rutinitas. Tercatat dia juga menjadi atlet PON perwakilan DIJ. Bahkan September mendatang dia akan mengikuti Pra Pon. Segudang prestasi pernah raih dalam berbagai perlombaan terjun payung.

Terhitung pernah meraih juara  Internasional Open Parachuting Championship (IPOC) kategori perseorangan dan grup. Pernah pula meraih juara dalam penyeleanggaraan PON 2016. Selain tercatat sebagai atlet militer juga aktif dalam Federasi Aero Sport Indonesia (FASI).

Uniknya, Serka Elma masih ada ketakutan saat akan beraksi. Perasaan tersebut menurutnya sangat wajar. Terlebih ada banyak faktor yang menyebabkan penerjunan berlangsung aman. Selain personal juga kendala dari alam dan obstacle di daratan.

“Normal seperti manusia biasa tetap ada rasa takut. Tapi sudah dibekali ilmu terjun payung sehingga bisa mengatasi ketakutan. Berlatih fisik setiap hari agar saat terjun tidak ada kendala dari personal,” ujarnya.

Dalam aksi terjun payung ini, Serka Elma tidak sendiri. Kloter pertama ada Kapten Adim dan Serka Arif dari Paskhas AU bersama Serka Mukri dari TNI AU. Pada kloter dua selain Serka Elma adapula Kapten Condro dan Peltu Yudi. Seluruhnya memiliki rekor terjun payung diatas 1.600 kali.

Komandan Kodim 0734/Jogja Letnan Kolonel Inf Wiyata Sempana Aji mengungkapkan terjun payung ada spefifikasi keahlian khusus. Pria yang memiliki basis Komando Pasukan Khusus (Kopassus) ini mengakui latihan penerjun payung terbilang berat.

Dia mencontohkan latihan terjun payung Kopassus. Berupa terjun statis dari menara ketinggian 100 meter. Selain itu setiap calon penerjun juga wajib menjalani tes ketinggian. Apabila lolos maka akan menjalani pelatihan tahap berikutnya.Saat berada di pesawat, harus fokus karena hanya hitungan detik.

“Harus ada kesiapan fisik dan mental. Berpikir cepat untuk menentukan langkah pendaratan. Kalau seperti ini (terjun payung Sidokabul) harus survei dulu baik karakter lokasi pendaratan dan arah angin,” katanya. (dwi/pra/er)