MAGELANG – Sapi-sapi yang digembalakan di tempat pembuangan sampah  berpotensi mengandung za-zat berbahaya. Sapi-sapi itu pun pun bisa terkontaminasi logam berat yang bercampur dengan sisa-sisa makanan pada tempat sampah tersebut.

Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk tidak membeli hewan kurban dari sapi-sapi yang digembalakan di tempat pembuangan sampah. “Selain itu, sapi yang digembalakan di tempat sampah juga bisa terjangkit virus, bakteri, maupun parasit,” ujar Dokter Hewan Rudi Widayanto.

Oleh karena itu, penting untuk memeriksakan hewan ternak yang akan dijadikan kurban. Dinas Peternakan dan Perikanan (Dispeterikan) telah membuka posko untuk melayani masyarakat yang ingin memeriksakan hewan kurbannya.

Maka dari itu, masyarakat diminta tidak mudah tergiur harga murah. Sapi yang digembalakan di tempat sampah memang cenderung murah. Sebab, peternak tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk memberi makan karena cukup dilepas di tempat pembuangan akhir.

Hanya saja ia mengakui cukup sulit membedakan mana sapi yang diternak dengan ideal dan mana yang digembalakan di tempat sampah. Secara kasat mata memang tidak begitu jauh beda. “Paling aman ya kurban dari hewan yang diternak sendiri,”  tandasnya.

Namun jika harus membeli hewan kurban, ia menyarankan untuk mengenali ciri-ciri hewan yang sehat. Salah satunya hewan dapat berdiri tegak dan berjalan normal. “Jangan beli hewan yang pincang,” jelasnya.

Selain itu, hewan yang sehat memiliki nafsu makan bagus. “Tubuh padat berisi, kulit licin mengkilap, tidak kusam. Lalu mata jernih tidak berair, hidung sedikit basah, tidak keluar liur berlebihan,” ungkapnya. (cr10/laz/er)