KULONPROGO – Pembangunan bandara di Temon tidak diimbangi transportasi terkoneksi yang memadai. Selain itu, YIA memiliki potensi diterjang tsunami.

Demikian sorotan Komisi V DPR RI saat berkunjung ke YIA Senin (5/8). “Konektivitas bandara dengan moda transformasi pendukung sangat penting jika tidak ingin bernasib sama dengan Bandara Kertajati. Sementara untuk potensi bencana, mitigasinya harus betul-betul dilakukan,” kata Wakil Ketua Komisi V DPR RI Sigit Sosiantomo.

Dikatakan, perjalanan dari Jogja ke Kulonprogo (YIA) masih sulit. Dan lama. “Bandara butuh kereta yang sampai bandara. Akses juga bisa dengan jalan tol yang bisa disambungkan tol trans Jawa,” harap Sigit.

YIA bisa mencontoh Bandara Adisumarmo yang dilengkapi stasiun bandara. Bisa menggunakan Stasiun Wates, Stasiun Wojo, atau Stasiun Kedundang yang terkoneksi dengan YIA. Bisa mengurangi kepadatan lalu lintas jalan raya.

“Jalan tol penggubung YIA bisa mengambil jalur tol trans Jawa dengan dua pilihan, pertama Bawen ke selatan menuju Kulonprogo atau dari Kartosuro menuju Jogja ke Kulonprogo,” ujarnya.

Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi mengatakan konektivitas transportasi sangat diperlukan. Apalagi minat masyarakat terhadap YIA semakin bagus. “Kereta bandara sudah masuk rencana. Targetnya, akhir 2020 sudah ada,” janji Faik.

Direktur Teknik Angkasa Pura I Lukman F. Laisa mengatakan sudah melakukan mitigasi bencana tsunami. “Desain bangunan terminal ketinggiannya di atas 12 meter. Dan bisa menjadi tempat evakuasi,” ungkap Lukman. (tom/iwa/fj)