MAGELANG – Unik, lagi nyentrik. Konsep acara nikah masal yang digelar Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang Selasa (6/8) memang tak wajar. Bisa menguras adrenalin. Bukan saja bagi pasangan yang menikah. Pun demikian yang menyaksikannya. Sang mempelai melakukan ijab kabul sambil bergelantungan setinggi empat meter di papan wall climbing. Bahkan, sang penghulu juga harus memanjat wall climbing yang sama. Kedua mempelai tetap mengenakan busana layaknya pengantin. Dilengkapi helm untuk pengaman kepala.

Bertindak sebagai saksi Bhabinkamtibmas Polsek Mertoyudan Aipda Donny Sugiarto dan Danramil Mertoyudan Kapten Arm Nur Sigit. Kedua saksi juga harus memanjat wall climbing menuju tempat saksi di titik lebih tinggi.

“Sempat deg-degan saat latihan ditarik ke wall. Tapi pas nikah nggak takut lagi,” ungkap Nita Mutiara, 31, salah seorang peserta nikah masal. Gadis asal Palangkaraya, Kalimantan, itu dipersunting Subandriyo, 34, asal Mirit, Kebumen, Jawa Tengah.

Acara “Nikah Bareng Agustusan” digelar untuk menyambut HUT ke-74 RI sekaligus Milad ke-55 UM Magelang. Di kompleks Kampus 2 UM Magelang, Mertoyudan. Ada tiga pasangan yang menikah siang itu. “Selama ini belum ada cara nikah dengan konsep seperti ini,” ujar Ketua Ikatan Alumni UM Magelang Isa Ashari. “Nikah di masjid atau Kantor Urusan Agama itu sudah biasa,” tambahnya.

Selain tiga pasang yang menikah di papan panjat dinding, enam pasangan lain menjalani prosesi ijab kabul di Laboratorium Farmasi. Lalu, tiga pasangan lain menikah di Studio Radio Unimma. Sedangkan lima pasangan pengantin lainnya lagi ijab kabul di crane bengkel otomotif.

Total 17 pasangan pengantin nyentrik.

“Semua kebutuhan mempelai dan pesta pernikahan gratis,” ujar Rektor UM Magelang Eko Muh Widodo.

Adapun mahar nikah masal bertema “Merajut Cinta di 74 Tahun Indonesia Merdeka” berupa bendera merah putih dan teks proklamasi sebagai mahar. “Itu untuk menanamkan rasa kebangsaan dan nasionalisme,” kata Eko.(cr10/yog/rg)