JOGJA – Kasus DBD yang masih cenderung tinggi di Jogjakarta menimbulkan keresahan dan keprihatinan semua pihak. Melihat kondisi tersebut Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melakukan pelatihan kader Jumantik  di Dusun Patukan Gamping pada awal Juli lalu.

Pelatihan ini dilakukan di Dusun Patukan Gamping karena dusun tersebut merupakan wilayah dengan kasus DBD tertinggi di Sleman. Pelatihan ini dilakukan oleh Tri Wahyuni Sukesi SSi MPH, Dr Surahma Asti Mulasari SSi MKes, dan Sulistyawati SSi MPH, selaku Dosen di FKM UAD dan berkompeten dalam bidang kesehatan lingkungan.

Tri Wahyuni menyampaikan, pelatihan ini diikuti oleh 36 warga dusun Patukan. Tujuan dari pelatihan kader jumantik ini adalah untuk memberikan penguatan berupa pengetahuan dan praktek dengan benar sebagai Jumantik.

“Selama ini kader Jumantik adalah ujung tombak dari upaya pengendalian DBD, sehingga mereka harus diberikan bekal kemampuan dan pengetahuan yang baik terhadap penyakit dan pengendalian DBD,” ujarnya di Kampus 3 UAD, di Umbulharjo, Jogja, Selasa (6/8).

Pada kegiatan pelatihan ini, Tri Wahyuni menitikberatkan pemahaman tentang penyakit DBD kepada kader Jumantik, cara penularannya, upaya upaya pengendaliannya, jadwal pemeriksaan jentik oleh jumantik, pencatatan dan pelaporan hasil pemeriksaan jentik.

“Pelatihan kader Jumantik ini disatu sisi juga menjadi promosi kesehatan dalam rangka mengaktifkan gerakan satu rumah satu jumantik dan hal ini menjadikan masyarakat lebih perduli dan tanggap terhadap penyakit DBD,” jelasnya.

Tri Wahyuni berharap dengan Pelatihan kader Jumantik ini dapat menekan kasus DBD yang terjadi dengan kepedulian melalui tingkatan yang paling dasar yaitu keluarga. “Pelatihan ini diharapkan bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi kejadian DBD dan memberikan edukasi kesehatan,” ungkapnya.(*/pra/er)