JOGJA – Proses ekskavasi Pojok Beteng Kulon Jogja menuai kendala. Para arkeolog tak memiliki detail data sejarah yang bisa dijadikan acuan. Untuk mengembalikan benda cagar budaya itu ke bentuk aslinya. Sebelum munculnya Jalan Butulan di sisi timur pojok beteng.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIJ Retno Isnurwindryaswari mengungkapkan,  satu-satunya data yang bisa menjadi acuan hanya dokumen kuno peninggalan Belanda. Peta biru bertahun 1812 itu menunjukkan Pojok Beteng Kulon telah mengalami beberapa kali perubahan desain yang signifikan. Desain awal seluruh beteng yang mengelilingi Keraton Jogjakarta itu memiliki ketebalan dinding yang sama.

“Tapi dokumen itu tidak memuat foto atau (gambar, Red) bentuk fisik Pojok Beteng Kulon,” jelasnya di sela proses eskavasi Pojok Beteng Kulon Rabu (7/8).

Retno menuturkan, awal perubahan bangunan di bagian Pojok Beteng Gondomanan. Itu akibat peristiwa Geger Sepehi. Ada penipisan dinding beteng sisi barat. Dari lebar aslinya 5,5 meter. Sebagaimana dinding Pojok Beteng Wetan yang tetap utuh sampai sekarang. Itu ditunjukkan masih adanya konstruksi Margi Hinggil. Ruas jalan ini membentang dari Pojok Beteng Wetan sampai Plengkung Gading.

“Data keraton menyebutkan munculnya Jalan Butulan di awal 1948,” katanya.

Menurut Retno, data tersebut diperkuat keterangan ketua RT setempat. Bahwa butulan berawal retakan bangunan beteng hingga menjadi jalan tembus.

PERLU RESTORASI TOTAL: Tim Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya DIJ sedang menyelesaikan proses ekskavasi Pojok Beteng Kulon Jogja Rabu (7/8). (GUNTUR AGA/RADAR JOGJA)

Hasil ekskavasi sementara, para arkeolog menemukan fondasi bata kuno utuh di sisi utara Pojok Beteng Kulon. Semakin ke selatan terdapat fondasi baru. Salah satunya bekas kolom besi gapura baru. Gapura tersebut sebagai penanda Kampung Nagan. Saat ini sudah dirobohkan.

Retno menyatakan, konstruksi cor bukanlah arsitektur kuno. Perekat susunan bata kuno hanya material tanah lempung. Dari temuan itu, dia menduga bahwa fondasi asli dinding pojok beteng juga berubah.

“Ada fondasi baru. Tapi di bawahnya itu ada fondasi asli. Lalu ada sepetak tumbukan bata merah,” papar Retno. “Informasi dari warga setempat, remukan bata diambil dan diolah jadi semen merah,” tambahnya.

Lebih lanjut Retno mengatakan, timnya hanya fokus mengkaji fondasi asli Pojok Beteng Kulon. Kendati demikian, dia menyarankan agar BCB tersebut direstorasi total ke bentuk semula.

“Panjang, lebar, dan ketebalan (dinding Pojok Beteng Kulon, Red) sudah ketemu. Mirip dengan Pojok Beteng Wetan,” ujarnya.

Ketua RT 26 Nagan, Patehan, Kraton Rochmad Hajir membenarkan bahwa butulan berawal adanya kerusakan beteng. Hingga akhirnya menjadi jalan tembus menuju sisi luar beteng. Saat itu lebar butulan sekitar satu meter. Tidak selebar sekarang.

“Cerita bapak saya, butulan hanya berupa jalan setapak. Tembus keluar. Cuma bisa dilewati satu orang,” kisah pria paro baya itu. (dwi/yog/rg)