Kondisi ekonomi mereka telah membaik. Begitu alasan puluhan warga Hargomulyo, Gedangsari, Gunungkidul berbondong-bondong mendatangi pendapa kecamatan setempat Selasa (6/8). Mereka tak mau lagi menerima bantuan pemerintah.

GUNAWAN, Gunungkidul

“STATUS” miskin melekat pada kelurga mereka. Bertahun-tahun lamanya. Semuanya terdaftar sebagai penerima manfaat program keluarga harapan (PKH). Tapi itu dulu. Sekarang lain ceritanya. Keadaan telah berbalik.

Tak kurang 80 orang mendatangi pendapa kantor Kecamatan Gedangsari siang itu. Mereka malu terus-terusan dicap miskin. Padahal kondisi perekonomian keluarga telah membaik. Seiring adanya bantuan dan beragam program pendampingan dari pemerintah.

ANTIMISKIN: Warga Desa Hargomulyo, Gedangsari, Gunungkidul deklarasi menolak bantuan pemerintah di pendapa kantor kecamatan setempat Selasa (6/8). (ISTIMEWA)

Hartini, salah satunya. Warga Padukuhan Bulu. Dia tak mau lagi menerima bantuan PKH. Karena sudah mampu mandiri.

Tak satu pun merasa terpaksa. Untuk mengundurkan diri. Sebagai peserta penerima bantuan. “Setiap hari saya mengolah makanan bergizi tinggi. Masak masih dapat bantuan,” ujarnya di hadapan Bupati Gunungkidul Badingah. Di acara deklarasi revolusi mental warga mandiri tolak bantuan pemerintah.

Hartini melanjutkan ceritanya. Ketika dia terbebas dari label miskin. Dia mengakui sebelum ini keluarganya masuk kategori prasejahtera. Lalu pemerintah hadir melalui PKH. Di dalamnya ada program pendampingan usaha. “Saya memulai usaha membuat keripik talas dan es campur di pinggir jalan,” kisahnya.

Sejak itu perekonomian keluarganya mulai membaik. Pun usahanya. Terus berkembang. Sampai sekarang. Hartini bahkan mampu membuka warung. Di dekat Mapolsek Gedangsari. Penghasilannya terus meningkat. Kebutuhan keluarga pun terpenuhi dengan baik. “Itu artinya sekarang saya sudah tidak pantas menerima bantuan dari pemerintah,” tegasnya.

Hartini berpendapat, bantuan program PKH-nya lebih baik dialihkan kepada warga lain. Yang jauh lebih membutuhkan. Hartini juga memiliki motto. Yang menjadi motivasi hidupnya. “Intinya, jika ingin berubah menjadi lebih baik, keluarga harus kompak,” katanya. “Saya berdagang dan suami juga bekerja,” tambahnya.

Hartini bertekad keluar dari zona prasejahtera. Berikut 79 warga lainnya.

Camat Gedangsari Martono Imam Santoso pun sangat apresiatif. Deklarasi revolusi mental memang untuk mengubah pola pikir masyarakat. Agar lebih maju. Lebih mandiri. “Saya optimistis cara pandang masyarakat bisa berubah mengenai kemiskinan,” ucapnya.

Badingah tak kalah bungah. Dia bangga pada warganya. Yang pilih mundur dari PKH karena sudah mampu mandiri. Dia lantas memaparkan soal revolusi mental. Ada tiga poin utama. Integritas, etos kerja, dan gotong royong. Dari tiga poin itu gotong royong paling penting. Sesuai karakter bangsa Indonesia. “Itu modal sosial yang penting bagi warga Gunungkidul,” tuturnya.

Badingah berpesan. Agar warga Bumi Handayani mempertahankan budaya gotong royong. Dengan gotong royong, kata dia, permasalahan sosial yang terjadi selama ini niscaya akan teratasi.(yog/rg)