JOGJA – Dampak musim kemarau mulai dirasakan. Data yang diterbitkan Pusat Pengendalian Operasi BPBD DIJ, sebanyak 2.773,5 hektar lahan di Jogjakarta mengalami puso. Kabupaten Gunungkidul mendominasi. Dengan seluas 2.700 hektar lahan yang mengalami kekeringan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertan) DIJ Sasongko membenarkannya. Hanya saja kekeringan terjadi di lahan jenis ladang. Sementara untuk lahan jenis sawah masih produktif. Meski diakui olehnya hasil panen tetap tidak optimal. Penyebabnya karena curah hujan sejak April sangat rendah bahkan tidak ada

“Gunungkidul itu sejak awal musim kemarau sudah tidak tanam padi. Tapi ada sejumlah kecil lahan yang akan memasuki panen di penghujung Agustus,” jelasnya ditemui di Kantor Dispertan DIJ Rabu(7/8).

Walau begitu dia menjamin stok pangan Jogjakarta aman. Berdasarkan data per Juli, stok beras mencapai 57.651 ton.  Sementara angka kebutuhan konsumsi beras mencapai 28.857 ton. Selisih tersebut mampu memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun.

“Stok saat ini merupakan hasil dari musim tanam Desember dan panen Maret. Sementara yang masih berjalan saat ini musim tanam April. Tentu ada kerugian, karena air sudah kering bahkan tanah sampai pecah-pecah,” ujarnya.

Diakuinya, puso berdampak pada kerugian petani. Hanya saja dia belum bisa memastikan total kerugian yang dialami para petani. Pemerintah, lanjutnya, telah menyiapkan asuransi usaha tanaman padi (AUTP). Sayangnya dalam prakteknya, belum semua petani berminat.

Dari total 72 ribu hektar sawah di Jogjakarta, baru sekitar 266,07 hektar yang terdaftar. Detailnya 256,07 hektar lahan dari Kulonprogo dan sepuluh hektar lahan dari Kabupaten Sleman. Jumlah ini jauh dari target nasional sebanyak 3.000 hektar.

“Permasalahannya apa kami juga tidak tahu, padahal dari premi Rp 180 ribu per hektar ada subsidi. Sehingga cukup membayar Rp 36 ribu. Untuk setiap hektar gagal panen akan mendapat ganti Rp 6 juta,” katanya.

Terkait kekeringan, BPBD DIJ telah menyalurkan sejumlah bantuan air. Data per 2 Agustus, sebanyak 215 ribu liter air terdistribusi ke Kulonprogo. Kabupaten Bantul mendapat bantuan air sebanyak 785 ribu liter air. Bantuan terbanyak berada di Gunungkidul sebanyak 6,27 juta liter air.

Kepala Pelaksana BPBD DIJ Biwara Yuswantana menuturkan bantuan dikuatkan adanya surat keputusan bupati.  Terutama terkait status siaga darurat kekeringan di Bantul dan Gunungkidul. Status siaga darurat kekeringan di Bantul berlangsung hingga 15 Desember.

“Sementara untuk Gunungkidul status siaga darurat kekeringan sampai 31 Oktober,” jelasnya.

Mantan Kepala Bidang Pemerintahan bappeda DIJ itu mengimbau warga akan bahaya dampak sekunder kekeringan. Salah satunya adalah kebakaran lahan, hutan maupun lingkungan. Cuaca panas ditambah hembusan angin kering dapat menjadi pemicu. Dia meminta agar warga tidak bermain-main dengan api.

“Biasanya berawal dari bakar sampah, atau membuang putung rokok di rerumputan kering. Kalau ketemu angin kering bisa bertambah besar,” pesannya. (dwi/pra/fj)