JOGJA – Aspal yang mulus disukai pengendara motor. Tapi tidak untuk kusir andong. Aspal yang mengkilap justru dikhawatirkan membuat licin untuk kuda yang lewat. Seperti di kawasan Malioboro hingga Alun-Alun Utara (Altar).

Yang terakhir terjadi jumat malam (2/8) lalu. Ada kuda yang menarik andong terjatuh di sekitar Altar. Ketua Paguyuban Kusir Andong DIJ Purwanto menampik, kejadian tersebut akibat kelebihan penumpang. Penyebab terpelesetnya kuda akibat licinnya jalan.

Lokasi tersebut, lanjutnya, memang tergolong rawan bagi kuda andong. Selain licim, kontur jalan juga cenderung menurun. Kuda sering blandang saat melintas. Padahal setiap kuda andong telah terpasang tapal besi atau sepatu kuda.

“Penumpangnya itu cuma empat, jadi bukan karena overload. Tapi jalannya yang licin,” ungkapnya Rabu.

Salah satu kusir andong, Budi, 40, juga membenarkan jika aspal kawasan Malioboro hingga Altar cenderung licin. Bahkan kuda miliknya pernah menjadi korban saat revitalisasi simpangempat titik nol kilometer dibuka. Menurut pria asal Imogiri Bantul ini, aspal yang mengkilap ini malah licin. Apalagi batu andesit di Titik Nol Kilometer juga dinilainya licin. “Dulu kuda saya sempat pincang karena terpeleset di sana (titik nol kilometer). Antisipasinya kalau melaju ya cuma dijalankan tidak disuruh lari. Kalau lari risikonya terpeleset,” ujarnya.

Purwanto juga memastikan tidak membuat kuda lelah. Terlebih mayoritas pengguna andong adalah wisatawan. Sehingga rute yang dituju tidak terlalu jauh. Berbeda dengan kuda andong sisi timur Pasar Beringharjo yang fokus pada angkut barang.

Paguyuban juga sudah melakukan sertifikasi bersama Dishub Kota Jogja. Setidaknya sekarang ada 450an  dari 564 kuda andong yang sudah bersertifikat dan dinyatakan layak menarik andong. “Pemeriksaan terakhir tiga bulan lalu bersama UGM,” jelasnya.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti menyoroti maraknya kasus kuda penarik andong terpeleset. Kejadian-kejadian ini kerap terjadi di titik wisata, Malioboro hingga Keraton. Melalui Dishub Kota Jogja, sudah fokus pada kesehatan. Terbukti dengan adanya pemeriksaan rutin bersama instansi kesehatan hewan. Selain itu juga pengawasan dari UPT Malioboro sebagai penanggungjawab kawasan wisata tersebut. “Orang naik andong untuk happy-happy tujuan wisata. Beda dengan dulu yang benar-benar sebagai moda angkutan darat,” ujarnya. (dwi/pra/er)