PURWOREJO – Penggunaan nama yang keren dan menjual akan sangat mendongkrak nilai sebuah barang. Banyak barang yang jika dinamai menggunakan nama lokal kurang menjual, tapi saat ditempeli nama yang berbahasa asing menjadi sangat laku.

“Kita memiliki ayam goreng, tapi kalau namanya disebut dengan fried chicken harganya jadi melambung. Air putih juga seperti itu, kalau tidak ada labelnya harganya murah, bahkan gratis. Tapi kalau pakai merek, harganya bisa melebihi harga bensin,” kata Bupati Agus Bastian saat membuka Bursa Inovasi dan Grabag Gayeng Ekspo Spektakuler yang diadakan di Desa Patutrejo, Grabag, Rabu (7/8).

Menggunakan bahasa asing dalam menamai sebuah produk, menurut bupati, sah-sah saja karena untuk mendongkrak nilai jual barang. Ini selaras dengan era sekarang yang sudah melaju dengan ungkapan globalisasi. “Adanya upaya untuk mengubah itu, sudah bagus karena kita sudah mulai bisa mengikuti era global,” katanya.

Wilayah yang ada di Kecamatan Grabag, menurut Bastian, menjadi bagian dari dunia. Bisa disebut jika desa-desa di Grabag bukanlah termasuk desa yang terpencil. Apalagi warga sudah melakukan banyak langkah untuk menunjukkan inovasi yang dilakukan.

“Dengan inovasi akan banyak hal baru yang bersentuhan dengan teknologi dan memberikan kemanfaatan bagi warga. Ini sangat menarik,” tandasnya.

Dikatakan, dulu petani saat memisah padi dan jerami dengan cara diinjak-injak, sekarang tidak perlu lagi. Karena ada teknlogi baru yang walaupun masih sederhana tapi bisa membantu kerja petani dan mempercepat waktu. “Adanya inovasi memang akan mendorong kita lebih maju,” tambahnya.

Camat Grabag Amat Jaenudin mengatakan, bursa inovasi dan Grabag Gayeng Ekspo Spektakuler menjadi bentuk unjuk kerja desa di Kecamatan Bener untuk menyongsong Romansa Purworejo 2020. Dia melihat progarm dari bupati ini amat menarik karena akan mengungkit perkembangan kawasan selatan Purworejo.

“Ini bukanlah kegiatan yang sekali diselenggarakan dan akan selesai begitu saja. Kami akan menggelarnya rutin setiap tahun dan dilakukan evaluasi untuk perbaikan,” kata Jaenudin.

Walaupun tidak ada lagi anggaran dari Kemendes, pihaknya berkomitmen tetap menyelenggarakan karena menjadi ajang pameran produk UMKM serta hasil inovasi yang dilakukan warga Grabag. “Kami harapkan kegiatan kecil yang kami lakukan ini bisa mendorong atau mendukung langkah Purworejo yang lebih besar,” tambahnya.

Dia yakin dari kegiatan ini akan mendorong roda perubahan di desa untuk terus bergerak di banyak aspek, sehingga menjadikan desa yang makin maju, mandiri dan masyarakat yang lebih sejahtera. (udi/laz/er)