MUNGKID – Tanaman palawija milik warga di sembilan desa sepanjang lereng Bukit Menoreh diserang ratusan kera. Masyarakat pun resah karena sejauh ini belum ada upaya penanggulangan, meski telah terjadi berulang kali terjadi, khususnya saat musim kemarau.

Salah seorang penyuluh pertanian Sumardi menjelaskan, tanaman palawija milik warga yang diserang itu antara lain di Desa Sambeng, Bungaran, Kenalan, Candirejo, Ngargogondo, Majaksingi, Tuksongi, Giritengah, dan Giripurno.

“Hampir separuh kecamatan. Sampai 70 persen yang terkena serangan kera-kera itu,”  ungkap Sumardi (6/8). Soal kerugian yang dialami petani akibat mengamuknya kera-kera itu, ia belum bisa memastikan.

Yang jelas tanaman palawija seperti jagung, ketela pohon, pisang, dan masih banyak lagi, ludes dijarah kera-kera yang diperkirakan jumlahnya ratusan ekor itu. Kejadian ini ditengarai karena kurangnya pasokan makanan dan air di wilayah atas perbukitan Menoreh.

Selain itu, vegetasi yang kurang membuat mereka tidak punya tempat berlindung di bawah terik matahari. “Sehingga mereka turun ke ladang milik warga untuk minum dan mengambil hasil bumi untuk dimakan,” ujarnya.

Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) sebenarnya telah melakukan reboisasi di Bukit Menoreh sejak 27 Februari lalu. “Kami mencoba menanam kesukaan kera di lahan sekitar satu hektare. Antara lain kersen, ringin, gulu, jambu kerikil, dan jeruk,” tuturnya.

Namun, ternyata itu tidak cukup memenuhi pasokan makanan kera. Sebab, setidaknya butuh dua tahun agar tanaman itu mulai bermunculan. Mengingat populasi kera yang begitu besar, reboisasi yang selama ini dilakukan belum sebanding.

Sumardi menjelaskan, serangan kera mulai marak sejak kemarau datang. Ristiyono, kepala Dusun Malangan, Ngargogondo bahkan menyebut kera-kera itu menyerang sepanjang tahun alias tidak kenal musim.

“Serangan monyet tidak kenal musim, tidak hanya kemarau. Apalagi kalau musim tanam saat musim hujan. Itu udah pasti merusak. Memang di atas sudah tidak ada makanan,”  ungkapnya.

Dikatakan, sejauh ini masyarakat di dusunnya hanya bisa menunggui lahan. “Kalau datang rombongan, kaya orang piknik. Ada sekitar 200-an ekor, dari yang besar sampai yang masih digendong. Kami cuma bisa ngusir. Paling nanti balik lagi. Bahkan kadang mereka sampai menginap,” tutur Ristiyono. (cr10/laz/er)