PURWOREJO – Warga di RT 3 RW 1 Desa Mendiro, Kecamatan Ngombol, Purworejo, terpaksa harus mengambil air dari masjid setempat untuk sehari-hari. Hal ini dilakukan karena sebagian besar sumur yang ada di RT tersebut tidak layak konsumsi.

Air yang ada di sumur-sumur warga terlihat keruh dan kuning. Ini masih diperparah adanya bau karat besi. Praktis dengan air warga itu tidak layak digunakan baik untuk keperluan memasak maupun minum.

“Untuk cuci terpaksa masih menggunakan sumur sendiri. Kebutuhan lainnya meminta dari tempat lain atau membeli,” kata Kepala Desa Mendiro Awan Yoga Kurniawan Rabu (7/8).

Diungkapkan, pihaknya sudah melakukan berbagai cara agar air yang ada bisa jernih dan bisa digunakan, tapi warga tidak mampu. Kesulitan itu pun disampaikan kepada salah satu rekannya yang menjadi akademisi di Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP).

“Kebetulan dari UMP ada program kemitraan tentang pengelolaan air bersih ini. Program ini juga selaras dengan program pemerintah desa tentang pengelolaan air bersih,”  tambah Awan.

Selain ada bantuan kemitraan, desanya juga mendapat program bantuan Pamsimas untuk pemenuhan air bersih yang layak konsumsi. “Kami akan kolaborasikan antara yang ada di sini (PKM UMP, Red) dengan Pamsimas di desa,”  ungkap Yoga.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMP melalui ketuanya Sriyono mengatakan, program yang diterapkan di Mendiro adalah pemanfaatan teknologi filter air. Sistem kerjanya menyaring air dari sumur yang kualitasnya tidak layak agar menjadi jernih dan layak digunakan masyarakat.

“Yang terjadi di Mendiro air jadi masalah klasik saat musim kemarau. Kalau memasuki musim kemarau menjadi sangat keruh, berwarna kecoklatan. Sehingga untuk digunakan dalam kebutuhan keseharian dan untuk minum tidak layak,” kata Sriyono.

Pihaknya mencoba menerapkan teknologi yang sebenarnya sederhana, murah, dan ramah karena menggunakan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Dengan penerapan teknologi ini, diharapan air yang difilter menjadi layak pakai.

“Karena prototipe uji pertama, program ini untuk memenuhi kebutuhan lima sampai delapan kepala keluarga di sekitar musala. Selain untuk kebutuhan musala sendiri. Pemilihan lokasi di musala karena merupakan tempat umum yang bisa dimanfaatkan bersama oleh masyarakat,” ujarnya.

Prinsip dasar teknologi filter air yang diterapkan sebagaimana filter pada umumnya. Namun di Desa Mendiro memanfaatkan paralon yang di dalamnya menggunakan kerikil, pasir silika, batu arang atau media aktif, serta penyaring yang bahannya menyesuaikan ketersediaan di masyarakat. Bisa menggunakan kapas, karpet, atau bahan lain. (udi/laz/er)