JOGJA – Keraton Ngayogyakarta kembali menggelar upacara Tumplak Wajik Jumat (9/8). Upacara di salah satu sudut Ndalem Magangan itu untuk mengawali prosesi pembuatan gunungan Garebeg Besar. Yang digelar menyambut Hari Raya Idul Adha.

KRT Purwodiningrat mengatakan, Tumplak Wajik dan tradisi Garebeg Besar merupakan warisan agung dari para wali.

(HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

”Perpaduan dari budaya Islam, Jawa, dan Hindu,” ujarnya Jumat (9/8).

Menurutnya, tradisi ini juga sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas melimpahnya berkah yang diberikan.

Tumplak Wajik merupakan prosesi menumpahkan wajik ke dalam sebuah tempat yang akan dihias. Hiasannya berupa hasil bumi dan beragam makanan khas Jogja. Nah, rangkaian ragam makanan khas itu menjadi gunungan Gerebeg Besar.

Upacara ini menarik perhatian wisatawan asing. Jorg Svensson, salah satunya. Wisatawan asal Norwegia itu mengaku takjub dengan banyaknya tradisi di Jogjakarta.

“Tradisi yang sangat menarik,” ujarnya.

Garebeg besar rencananya digelar Senin (12/8). Ada tujuh gunungan yang akan dibagikan di tiga tempat. Lima gunungan di antaranya akan dibagikan di halaman Kagungan Dalem Masjid Gedhe Kauman. Yakni Gunungan Kakung, Gunungan Estri, Gunungan Darat, dan Gunungan Pawuhan. Sisanya, antara lain, akan dibagikan di Kepatihan.

Gunungan ini akan dikawal sepuluh bregada. Yakni, Bregada Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawirotama, Nyutra, Ketanggung, Mantrijero, Surakarsa, dan Bugis. Bregada Surakarsa akan mengawal lima gunungan hingga tiba di Masjid Gedhe. Sedangkan Bregada Bugis akan mengawal Gunungan Kakung hingga tiba di Kepatihan.

Delapan bregada lainnya akan membentuk pagar betis dari sisi utara ke selatan di tengah Alun-alun Utara. Untuk Gunungan Kakung yang dibawa ke Puro Pakualaman akan dikawal oleh Bregada Pakualaman yakni Dragunder dan Plangkir. (Cr12/zam/by)