GUNUNGKIDUL – Untuk menekan semakin berkurangnya lahan pertanian di DIJ, upaya perlindungan dari alih fungsi lahan sangat diperlukan. Generasi milenial didorong agar ambil bagian dalam menjaga salah satu permasalahan yang sedang dihadapi dalam bidang pertanian tersebut.

Hal itu diungkapkan GKR Hemas saat berdialog dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Wukirsari, Baleharjo, Wonosari Rabu (14/8).

Menurutnya, upaya itu menindaklanjuti amanat Perda Nomor 10 Tahun 2011 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Dalam regulasi itu disebutkan agar kabupaten/kota di DIJ memiliki LP2B. Gunungkidul, misalnya, harus menyediakan LP2B 5.505 hektare.

Nah, peran generasi milenial di antaranya melalui kelompok wanita tani. GKR Hemas meyakini anggota KWT bisa membujuk suaminya untuk berkiprah sebagai petani.

”Bidang pertanian sangat menjanjikan juga bila dikelola dengan baik,” ujarnya.

Menurutnya, peran penting KWT juga dalam rangka mengembangkan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Yakni memanfaatkan pekarangan rumah sebagai kebun mini.

GKR Hemas meyakini, penerapan pertanian perkotaan yang dilakukan KWT memiliki berbagai dampak langsung. Mulai ekonomi, sosial, hingga peningkatan ketersediaan dan kualitas bahan pangan.

”Juga dapat menciptakan lingkungan yang bersih dan kondusif bagi kesehatan warganya,” ujarnya.

Bupati Gunungkidul Badingah berharap KWT termotivasi untuk mengembangkan lahan pekarangan. Agar perekonomian rumah tangga ikut meningkat.

”Untuk bertani tidak perlu lahan luas,” katanya. (gun/zam/er)