Albani sehat dan bugar di usianya yang menginjak 50 tahun. Aktif donor darah, Albani bisa mendeteksi kondisi kesehatannya.

IWAN NURWANTO, Bantul

SUDAH 108 kali lipatan tangan Albani ditembus jarum. Itu yang tercatat. Belum lagi beberapa posisi jarum yang harus diganti karena tidak menemukan nadi. Tapi, Albani tetap tidak kapok.

”Setiap dua bulan sekali pasti donor,” tutur Albani saat ditemui di kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Bantul Sabtu (17/8).

Padahal, usia Albani sudah menginjak 50 tahun. Kebanyakan orang yang telah menginjak usia kepala lima pasti berpikir panjang. Sekalipun lembaga yang menerima donor juga pasti berpikir berkali-kali. Sebab, syarat utama kondisi pendonor adalah sehat.

Dan, belakangan usia kepala lima sudah bermasalah dengan berbagai penyakit. Misalnya, diabetes dan kolesterol.

Warga Pedukuhan Kembangputihan, Guwosari, Pajangan, Bantul, ini aktif mendonorkan darahnya sejak usia 18 tahun. Hingga sekarang berarti Albani sudah aktif ikut donor darah selama 32 tahun.

”Ada 108 kantung darah saya (yang didonorkan),” sebutnya.

Albani hidup penuh kesederhanaan sejak masih berusia muda. Sehari-hari dia bekerja sebagai staf bagian rumah tangga PMI Bantul. Sembari membantu Suginem, isterinya berjualan nasi di kantor PMI yang terletak di Jalan Sudirman itu.

Namun, kesederhanaan itu justru yang mendorong Albani memilih aktif ikut donor darah. Dia memilih jalan itu sebagai caranya beribadah. Dia ingin memberikan manfaat kepada orang lain melalui darahnya.

”Saya tidak punya banyak materi untuk disedekahkan. Yang bisa saya berikan cuma apa yang ada di dalam tubuh saya,” tutur bapak dua ini dengan nada serius.

Yang betul-betul dirasakan Albani, aktif berdonor darah membuat hidupnya jauh lebih sehat. Sebab, donor darah adalah proses regenerasi sel dalam tubuh. Tubuhnya terasa lebih bugar usai donor darah.

Yang tak kalah penting lagi, Albani bisa mendeteksi kondisi kesehatannya.

”Kalau mau donor kan pasti ada pengecekan tubuh. Jadi, bisa tahu saya sedang sehat atau tidak,” ucap pemilik golongan darah B ini.

Karena itu, Albani berharap warga aktif mendonorkan darahnya. Terutama kalangan pemuda. Toh, donor darah merupakan gaya hidup sehat.

Berkat dedikasinya itu, Albani diganjar penghargaan Satyalencana Kebaktian Sosial dari presiden akhir Januari lalu. Bersama dengan beberapa pendonor darah lainnya se-Indonesia. Yang lebih 100 kali mendonorkan darahnya.

”Tidak menyangka bisa mendapatkan penghargaan ini,” tuturnya merendah sembari menunjukkan piagam penghargaan Satylancana.

Bekerja di PMI, Albani kerap bersinggungan dengan penanganan korban bencana. Termasuk di antaranya penanganan korban bencana gempa dan tsunami di Aceh 2004 silam. Dan, jalan di bidang kemanusiaan itulah yang dipilihnya. Agar Albani bisa mendermakan hidupnya untuk sesama. (zam/by)