INI adalah film panjang yang diadaptasi dari sebuah film pendek bergenre horor dengan judul sama yang (sangat) potensial viral, khususnya di kalangan penonton muslim karena kisahnya tentang kemunculan makmum gaib secara tak disangka-sangka ketika salat sendirian.

Dari satu proposisi horor ini saja rasa-rasanya saya sudah mau merinding, kalau serius membayangkannya ya. Bahkan, saya bayangin kalau ada teman yang menceritakan pengalaman mistisnya seperti ini kepadaku pas malam-malam ketika makrab/persami mungkin bakal bikin saya susah tidur di malam itu. Pipis pun minta ditemani.

Pengembangan plot film panjang ini bisa saya bilang patut diapresiasi karena plot orisinal dari film pendeknya pun hanya menekankan pada satu adegan utama tanpa narasi tiga babak. Di film panjangnya ini, plot menjadi tiga babak dengan bubuhan elemen, meski tak seberapa, investigasi. Set yang dipakai adalah asrama putri dengan tiga siswi yang sedang dihukum tak boleh liburan karena nilai ketiganya jelek.

Penampakan si makmum gaib semakin sering ketika asrama sepi semasa liburan. Kembalinya seorang alumnus asrama atas permintaan mantan kepala asrama membuat teror semakin menjadi-jadi. Hal ini mendorong si alumnus untuk membantu ketiga adik angkatannya dalam mengungkap misteri yang sedang melanda asrama mereka.

Pengembangan plot yang ada semestinya berpeluang membuat teka-teki konflik utamanya menggigit. Sayangnya ia tak didukung dialog dan pengadegan yang efektif. Transisi antara fase naratif dan horornya sangat kasar, macam ketika menulis skrip tak dibayangkan bagaimana alur sensasi yang dialami penontonnya.

Adegan-adegan terornya sungguh ditaruh sembarangan, yang penting ada dan mengejutkan. Jadi, tak perlu saya bahas tentang mutu timing untuk adegan jump scare di sini karena secara umum adegan cilukbanya tak terasa cukup menyatu dengan jalinan plot.

Belum lagi yang paling menggelikan dalam film ini adalah babak klimaksnya. Penyelesaian dalam adegan klimaksnya seangat klise dan tak meyakinkan. Efek visual yang digunakan pun, maaf, memalukan. Saya mau mendeskripsikannya, tapi khawatir malah jadi membocorkan.

Tanpa mempertimbangkan faktor upaya yang cukup baik atas pengembangan plotnya, mungkin bisa saja saya akan menertawakan film ini. Saya tak sampai hati melepaskan tawa jahatku semerta-merta karena saya lihat film ini bisa saja dibuat menggemparkan. Pun dibuat mampu sisakan pengalaman traumatis terhadap penontonnya. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara