JOGJA – Jalan Jagalan di wilayah Pakualaman, Kota Jogja dinilai terlalu sempit. Hanya lima meter. Kondisi itu diperparah kendaraan parkir di pinggir jalan. Itulah yang mendorong Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja berencana mengubah arus lalu lintas Jalan Jagalan menjadi satu arah. Dari selatan ke utara.

“Kami akan uji coba (jalur satu arah, Red) Kamis (22/8),” ujar Kepala Dishub Kota Jogja Agus Arif Nugroho Senin (19/8).

Agus mengklaim telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat Jagalan. “Insya Allah uji coba nanti sekaligus untuk sosialisasi. Mudah-mudahan (Jalan Jagalan, Red) semakin lancar,” tambahnya.

Menurut Agus, kepadatan lalu lintas kendaraan di Jalan Jagalan dan sekitarnya tergolong rendah. Namun, kondisi jalan yang sempit kerap mengakibatkan kemacetan di titik-titik persimpangan. Terlebih di jalan tersebut banyak gang untuk keluar masuk kendaraan. Sehingga kerap menyebabkan kemacetan.

Jalur satu arah di Jalan Jagalan berlaku untuk semua jenis kendaraan bermotor. Ini guna mencegah terjadi papasan dua kendaraan dari arah berlawanan. Yang juga berpotensi menyebabkan kemacetan.

Agus mengatakan, model manajemen lalu lintas seperti itu sudah diterapkan di beberapa kawasan macet.

Konsekuensi pemberlakuan jalur satu arah adalah jarak tempuh yang lebih jauh. Agus mengakui hal itu. kendati demikian, waktu tempuh menjadi lebih singkat. Dibanding saat berlaku dua arah. Jarak yang dekat, namun waktu tempuh lebih lama. “Jadi ini (jalur satu arah, Red) untuk mengurangi beban lalu lintas,” jelasnya.

Beban lalu lintas yang dimaksud seperti di Jalan Sultan Agung. Kepadatan arus kendaraan terjadi setiap pagi dan sore di atas Jembatan Sayidan. Apalagi jarak jembatan dengan taffic light di eks gedung Bioskop Permata dan perempatan Gondomanan sangat dekat.

Kantong parkir Jalan Jagalan juga akan ditata. Nantinya hanya sisi timur jalan yang boleh untuk parkir mobil.

Samiyati, warga setempat, sangat setuju dengan rencana pemberlakuan satu arah di Jalan Jagalan. Jalan itu banyak dipadati kendaraan lantaran menjadi jalur alternatif untuk menghindari traffic light menuju Jalan Sultan Agung. “Ya bagus kalau dibuat searah. Jadi nggak banyak polusi. Karena memang sering macet dan bising,” ungkapnya.

Menurut Samiyati, kemacetan di Jalan Jagalan tak hanya pagi dan sore. Atau saat jam pergi dan pulang kerja pegawai. Tapi juga saat hari-hari libur nasional. “Wah kalau libur macet lebih parah. Bahkan kendaraan sampai nggak bisa jalan karena berpapasan antarmobil,” bebernya.

Dari pantauan Radar Jogja, rambu-rambu larangan melintas dari utara ke selatan Jalan Jagalan sudah terpasang. Rambu tersebut dipasang di sisi timur Jalan Juminahan. Sebelum masuk ke Jalan Jagalan.(cr15/yog/by).