GUNUNGKIDUL – Masyarakat di Kampung Nelayan, Songbanyu, Girisubo, Gunungkidul mayoritas berprofasi sebagai nelayan. Setiap harinya hasil laut yang diperoleh para nelayan cukup berlimpah. Bahkan, hasil tangkapan laut itu akan diekspor ke Tiongkok.

Suara debur ombak dan mesin kapal cukup akrab terdengar di telinga warga Kampung Nelayan. Bagi warga setempat, aktivitas pergi ke laut untuk menangkap ikan demi nafkah keluarga adalah hal biasa. Melawan ganasnya ombak adalah hal lazim.

Gelombang cukup besar dan angin kencang ibarat teman keseharian. Dalam sebulan, rata-rata nelayan melaut lebih dari tiga kali. Namun, Kamis  (22/8) mereka libur karena pertimbangan angin kencang. Sejumlah kapal tampak bersandar di Pelabuhan Sadeng, Songbanyu, Girisubo.

Seorang nelayan, Sutoyo, 40, mengatakan, ketika musim ikan tiba aktivitas di kawasan pelabuhan sangat sibuk. Nelayan berangkat pagi. Mereka baru pulang selang empat hingga sepekan kemudian.

Aktivitas itu terus berulang. Tak ada perubahan dari siklus kehidupan di kampung tersebut.

”Rata-rata penduduk di Songbanyu berprofesi sebagai nelayan. Itu mata pencarian utama,” kata Sutoyo.

Diakui, banyak alasan masyarakat setempat memilih pekerjaan sebagai nelayan. Dia sendiri mengaku sebelumnya petani.

Dia kemudian terus mengasah kepekaan sebagai pencari rezeki laut. ”Saya sudah berkeluarga di sini,” ucapnya.

Menurutnya, hasil laut dianggap cukup menjanjikan. Ikan tangkapan mampu memberikan pendapatan yang lumayan.

Harga ikan yang ditangkap, ucapnya, ditentukan oleh pemilik modal. Sebab, dia dan sebagian nelayan bekerja untuk pemilik modal.

”Sekali melaut kurang lebih memperoleh 1,5 ton dengan harga jual Rp 17 ribu per kilogram. Modalnya sekitar Rp 8 juta,” ungkapnya.

Sementara itu, nelayan lainnya yakni Badri, mengatakan, sebagai nelayan tentu memiliki kendala-kendala dalam menjalankan pekerjaan. Kendala terbesar adalah perahu yang digunakan untuk mencari hasil laut. Kapal ukuran 10-20 growston (GT) terkadang perlu perbaikan.

”Ini karenakan kapal berada di atas air laut ya. Tapi dirawat tentu umurnya bisa lebih panjang,” ungkapnya.

Badri berharap di masa depan nelayan di Pantai Sadeng mendapat bantuan kapal yang jauh lebih kuat. Kapal yang kuat akan membuat nelayan lebih maksimal dalam mencari hasil laut.

Disinggung mengenai penjualan hasil tangkapan, sejauh ini dijual kepada pemilik modal. “Dijual dalam bentuk ikan segar, bukan dibekukan,” ucapnya.

Badri menjelaskan, ada prospek ikan dijual ke luar negeri. Pasar yang sedang dituju adalah Tiongkok. Jenis ikan layur yang menjadi salah satu hasil laut yang siap diekspor. Ikan tersebut dijual ke luar negeri dalam kondisi dibekukan.

Proses ekspor tidak langsung dilakukan oleh nelayan di Sadeng. Ada pengusaha dari Kota Jogja yang membeli hasil tangkapan. Lantas, dijual lagi ke Tiongkok.

Ada persyaratan agar untuk hasil tangkapan dapat diekspor. ”Misalnya, kualitas dan produksi dengan jumlah tertentu,” ungkapnya. (gun/amd/zl)