RADAR JOGJA – Di kalangan civitas akademika belum banyak yang memahami tentang Keistimewaan Jogjakarta. Berangkat dari situ, Universitas Atma Jaya Jogjakarta (UAJY) mengadakan workshop ”Peluang Keistimewaan Jogjakarta dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0”.

Acara yang berlangsung di Ruang III/3 Gedung Bonaventura Kampus III ini menghadirkan Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Yudhahadiningrat bersama dengan MRy Bimo Guritno sebagai pembicara dalam.

”Kegiatan yang difasilitasi oleh Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya UAJY ini diikuti oleh 52 orang dosen perwakilan seluruh fakultas di UAJY dengan moderator oleh Hengky Widhi A, SH, MH. Acara ini diadakan pada Jumat (16/8),” ujar Kepala Humas Sekretariat dan Protokol Rebekka Rismayanti.

Dalam acara itu, KPH Yudhahadiningrat memaparkan sejarah bagaimana awal mula berdirinya DIJ dari kerajaan Mataram, Negara NgaJogjakarta Hadiningrat hingga bergabungnya dengan Indonesia.

Menurutnya, perjuangan Sri Sultan HB IX sangat berjasa bagi Daerah Istimewa Jogjakarta dan juga kemerdekaan Republik Indonesia. Sedangkan titik keistimewaan Jogjakarta tidak hanya dilihat dari sejarah perjuangan HB IX. Tetapi juga kebudayaan yang hidup seperti bahasa, kesusasteraan, sistem pengetahuan, religi, sistem pemerintahan, seni, upacara adat dan masih banyak lagi.

”Khusus pada perguruan tinggi Atma Jaya Jogjakarta, jagalah keistimewaan ini dengan baik sehingga betul-betul Atma Jaya ikut berperan di dalam menyejahterakan rakyat Jogja melalui keistimewaan,” pesan KPH. Yudhahadiningrat.

Pembicara lain, MRy Bimo Guritno melihat budaya di DIJ sebagai jati diri bagian dari Indonesia. Tata nilai dan budaya DIJ saat ini dilihat dari keberanian mengambil risiko, sejak dari gelombang kolonialisme, revolusi nasional dan juga gelombang milenial yang melanda saat ini. Hal tersebut menjadikan sikap dari pemerintah DIJ untuk merangkul generasi muda untuk menjadi bagian dari pelestari budaya. (ila)