MAGELANG – Era Revolusi Industri 4.0 membutuhkan orang-orang andal berjiwa milenial. Termasuk di bidang pertanian.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Prof Dedi Nursyamsi menyatakan, peran petani milenial sangat penting. Guna mendukung pembangunan infrastruktur pertanian di Indonesia. Kendati demikian, Dedi menyebut, keberadaan kader-kader petani muda justru lebih penting daripada infrastruktur dan inovasi pertanian itu sendiri.

”Karena sumber daya manusia (SDM) yang andal dapat menghasilkan inovasi dan infrastrukturnya sendiri,” ujarnya saat memberikan kuliah umum di kampus Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang (Polbangtan YoMa) Jurusan Penyuluhan Peternakan di Magelang Selasa (26/8).

Di hadapan ratusan mahasiswa, Dedi menekankan pentingnya peran petani milenial di era Revolusi Industri 4.0. Karena itu petani milenial harus bertransformasi dari pertanian tradisonal ke pertanian modern. ”Pertanian tradisional itu urusan kolotnial, milenial kuasai modernisasi pertanian,” tegasnya.

Dedi melanjutkan, penerapan sistem pertanian tradisional dulu tidak masalah lantaran penduduk Indonesia masih sedikit. Namun saat ini cara itu tak lagi berlaku. Sistem pertanian harus bertransformasi ke modern. ”Tidak mungkin (petani, Red) kolotnial mengurus traktor, mengoperasionalkan, dan memeliharanya. Yang bisa melakukan itu adalah Anda, milenial. Karena itulah pertanian makin keren,” ,” tandasnya disambut aplaus ratusan mahasiswa.

Saat ini ada alat mesin pertanian (alsintan) yang di bagian depannya berfungsi untuk memanen dan di belakang langsung mengolah tanah. Kecepatan produksi pertanian itulah yang harus dikuasai petani milenial. Untuk menghadapi sistem pertanian modern. Menurut Dedi, bukan hal aneh kalau minat milenial terhadap pertanian makin tinggi. Mahasiswa Polbangtan adalah buktinya. Dari hanya sekitar 980 pendaftar pada Tahun Ajaran 2013/2014 melonjak menjadi 13.000 pendaftar di 2018/2019.

Dedi mengatakan, Kementerian Pertanian mentransformasi pendidikan pertanian dengan menciptakan milenial yang siap sebagai job creator melalui program Pemberdayaan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP). ”Kalian semua akan mendapatkan PWMP dan menjadi job creator,” katanya optimistis.

Pada sesi tanya jawab, mahasiswa Polbangtan sangat antusias menanyakan permasalahan pertanian yang mereka rasakan langsung di masyarkat. Salah satunya tentang cara memotong rantai distribusi dari petani ke konsumen. Dari petani petani murah tapi di konsumen mahal. Biaya produksi mahal tapi harga jual murah.

Dedi menyatakan, kondisi tersebut merupakan realita di lapangan.  Makanya diperlukan penguasaan sektor pertanian dari hulu hingga hilir. ”Pelajari bagaimana packaging yang baik dan menarik. Kuncinya, kurangi biaya produksi dengan inovasi teknologi,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Dedi, stop mengandalkan bahan produksi dari luar. Suburkan tanah tapi tidak menggunakan pupuk dari luar.  Terus berinovasi dan gunakan teknologi produksi pupuk sendiri. ”Membakar sisa-sisa tanaman itu sama dengan membakar duit. Karena itu bisa menyuburkan tanah,” jelasnya. (*/yog/ila)