LAGI-LAGI, saya perlu menandai dulu bahwa komen saya ini sama sekali tidak memasukkan atau membahas akurasi historis menimbang kekurangdalaman ilmu saya tentangnya. Pernah tahu pun sekarang lupa pastinya, jadi saya tak mau mengorbankan akurasi opin saya. Meminjam idenya Pram: seseorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran. Tsah. Komentar saya ini lebih pada sensasi sinematik dan pengalaman menikmati narasi hasil adaptasi.

Memeras 500an halaman ke dalam durasi 180an menit memang suatu proyek berbahaya. Konsekuensinya, si sutradara film harus siap dituding-tuding penikmat garis keras bukunya. Sejak awal, saya punya niat untuk tidak banyak berkomentar karena kerumitan ini.

Kabar baiknya, prolog film ini saya bilang cukup gemilang karena ia bisa menarasikan ide, yang mana merupakan karakterisasi tak terbendakan, dari Minke -si protagonis utama- scr efektif. Tak bertele-tele dan tepat sasaran dengan latar montase video rekaman era baheula. Intonasi dari sang ikon Ruangguru merangkap penggombal 90an pun tak saya rasa mengganggu. Sungguh awal yang baik.

Persoalan mulai sedikit mengganggu saya, padahal sudah terantisipasi lewat cuplikan resmi, dengan menerima knyataan bahwa rona yang digunakan film ini kekuningan yang mana sedikit mematikan warna-warna tetangganya: oranye, cokelat, merah, hijau pupus, dkk.

Warna-warna yang memang merepresentasikan aura jadul, tapi nggak cukup membantu menonjolkan salah satu isu besar tp laten dlm narasi ini  yakni konflik rasial. Menurut saya, akan lebih diuntungkan jika cenderung memakai warna netral. Namun, ini tentu keputusan sinematik sang sutradara, yang mana tampaknya lebih ingin menonjolkan kesan klasik daripada isu-isu dalam yang diangkat.

Secara umum, bisa saya bilang film ini sukses memindahkan garis besar narasi versi novelnya. Bahkan kalau melihat babak penutupnya: sama plek. Akan tetapi, bagi saya ia tak cukup berhasil dalam menyampaikan isu-isu penting kolonialisme yang diangkat. Menjadikannya sebagai karya roman sejarah yang diromankan. Beberapa adaptasi sangat bisa saya maklumi, hanya saja pilihan-pilihannya makin memantapkan bahwa film ini bukanlah menekankan pada ide/gagasan alam pikiran karakter utamanya (sebagaimana yang saya rasakan ketika membaca novelnya). Karakter guru favoritnya Minke, Magda Peters saja ”dibunuh” dalam film ini. Penonton dicekokin terima jadi aja bahwa Minke itu Jawa modern.

Persoalan agak krusial berikutnya adalah pengadegan. Bukannya tidak bagus, tapi makin ke sini gaya sinematiknya Hanung makin terprediksi dan mengurangi kejutan-kejutannya. Gaya kilas balik dengan montase yang menyertakan si narator menyaksikan kejadian masa lalu di dalam satu bingkai sudah pernah Hanung lakukan membabi buta dalam Kartini. Di film ini, hampir membabi buta lagi. Menarik,tapi sudah pernah.

Selain itu, karakterisasi beberapa tokohnya sangat alay. Lihat saja Maiko, si WTS, yang ngikik-ngikik keji itu. Sangat disayangkan, meski minor, tapi rusak susu seperempat belangalah. Ini belum lagi ditambah adegan penguntitan yang membuatku mbatin: oke deh, perlu ya diginiin.

Dari prolog yang menurut saya meyakinkan tadi, film jadi terasa njomplang jika ditarik secara keseluruhan durasi. Ia macam peserta tes TOEFL iBT yang mana terlalu nyantai dan fokus pada babak awalnya. Giliran menyadari bahwa telah mengambil terlalu banyak waktu di muka dengan sisa durasi kian menipis, ia kelabakan. Pertengahan film adalah masa gedubrakannya. Lupa bahwa masih banyak persoalan yang perlu dijejalkan karena susah dibuang. Jadilah film menjadi ceroboh. Narasi tetap jalan dan lunas, tapi pengalaman rasanya menjadi tak utuh. Membuat saya merasa ada cacat rasa dalam hal ini.

Sebagai karya tersendiri, narasi film Bumi Manusia sangat bisa diikuti dan dinikmati. Beberapa saat bahkan menyenangkan, tapi tak berbekas. Durasinya yang teramat panjang membuatnya seperti tontonan dengan konflik tak berkesudahan. Fokus yang ingin disampaikan menjadi kabur. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara