Radar Jogja – Ahmad Agung Yuwono Putro MPd lulus ujian promosi doktor di Program Studi Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dosen PGSD Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) itu dinyatakan lulus dengan Predikat Sangat Memuaskan.

Ujian terbuka digelar di Program Pasca Sarjana UNY, Rabu (21/8). Penguji terdiri dari Dr Sugito MA, Prof Dr Achmad Dardiri, Prof Suyanto PhD, Prof Dr Yoyon Suryono MS, Prof Dr Sodiq A Kuntoro, dan Prof Dr Sutrisno MAg.

Pada ujian tersebut Ahmad menyajikan Disertasi berjudul “Pendidikan Humanis Religius di Madrasah Ibtidaiyah Plus Baiquniyyah”. Dalam paparannya di hadapan penguji Ahmad menjelaskan poin-poin disertasinya. Madrasah Ibtidaiyah Plus Baiquniyyah (MIPB), di Wonokromo, Pleret, Bantul, memiliki strategi dan cara yang unik dalam melaksanakan pendidikannya, yaitu mengintegrasikan pendidikan Madrasah Ibtidaiyah atau pendidikan formal tingkat sekolah dasar dengan pendidikan pesantren. “Pengintegrasian dengan sekolah formal merupakan strategi menghadapi perkembangan zaman agar eksistensi pondok pesantren tidak redup dan kalah dengan sekolah modern,” ujarnya.

Menurut Ahmad, Kiai sebagai pengasuh dan pemimpin lembaga memiliki peran sentral dalam pelaksanaan strategi tersebut. Kharisma seorang Kyai dan pendekatan spiritual emosional yang dilakukan kepada santri atau muridnya merupakan aspek utama keberhasilan MIPB dalam menciptakan pendidikan yang humanis religious.

Ahmad menuturkan, pengintegrasian dengan pendidikan formal memiliki tujuan untuk memperkokoh pendirian pesantren yang telah lama berdiri sebelumnya dengan program unggulan mencetak Hafidz dan Hafidzoh. Isi pendidikan memberlakukan tiga kurikulum yaitu kurikulum formal dari diknas berupa kurikulum sekolah dasar pada umumnya, kurikulum Diniyah yaitu adanya tambahan pelajaran aqidah fiqih akhlak dan sejarah kepemimpinan Islam dari Kemenag, dan kurikulum pesantren yang dirancang oleh pihak Pesantren sendiri berupa hafalan al-qur’an, salat lima waktu berjamaah, salat Dhuha, pembelajaran kitab, serta pengembangan bakat dan minat yang dikemas dalam kegiatan Sabtu Ceria.

“Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, agar bisa bertahan dan mampu bersaing dengan zaman, harus melakukan inovasi salah satunya dengan mengintegrasikan dengan pendidikan formal. Harapannya orang tua siswa tidak ragu-ragu lagi memilih pendidikan di sekolah berbasis pesantren,” ungkapnya. (*/pra/tif)