Gebyar Anugerah Kita Harus Belajar (Kihajar) kembali diselenggarakan Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (BTKP) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY. Agenda tahunan ini diikuti 750 peserta. Terdiri atas 650 siswa SD hingga SMA/SMK serta 100 orang guru dan tenaga kependidikan.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Gebyar Anugerah Kihajar 2019 ini diselenggarakan di pusat perbelanjaan dan hotel berbintang. Tepatnya di Sleman City Hall dan The Rich Jogja Hotel Jalan Magelang, Mlati, Sleman.

“Teknologi informasi dan komunikasi di masa lalu dianggap barang mewah. Namun sekarang sudah berbeda karena telah menjadi kebutuhan masyarakat kita sehari-hari,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY Kadarmanta Baskara Aji saat membuka acar di Sleman City Hall Kamis (29/8). Gebyar Anugerah Kihajar ini berlangsung selama tiga hari hingga Sabtu (31/8) besok.

Aji, sapaan akrabnya, menegaskan dewasa ini masyarakat tidak bisa lepas dari teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Sebab, TIK diperlukan di banyak bidang. Dunia pendidikan juga tidak bisa mengelaknya. “Suka tidak suka itulah yang harus kita hadapi,” katanya.

Siswa yang menjadi peserta sudah melewati tahap seleksi. Prosesnya dilakukan masing-masing dinas di kabupaten/kota dan balai pendidikan menengah kabupaten/kota se-DIY. Sedangkan proses seleksi  guru dan tenaga kependidikan dilakukan BTKP DIY.

Kepala BTKP DIY Edy Wahyudi mengakui TIK berkembang demikian cepat. Karena itu, dalam  Gebyar Kihajar ini lombanya juga kekinian. Peserta tidak perlu kertas untuk menulis jawaban. Panitia menyediakan gawai sebagai gantinya.

Ada tiga kegiatan selama acara. Yakni seminar, kuis dan lomba. Peserta  seminar guru dan tenaga kependidikan. Temanya Inovasi Teknologi Pembelajaran dalam Menghadapi Revolusi 4.0.  Seminar  berlangsung di The Rich Jogja Hotel itu. “Khusus kuis dan lomba kami selenggarakan di Sleman City Hall,” ungkapnya.

Jenis lomba untuk setiap tingkat berbeda-beda. Lomba penyiar radio diikuti siswa SMP dan SMA/SMK.  Sedangkan lomba fotografi, lomba band Ipad dan lomba video edukasi hanya dapat diikuti SMA/SMK. Berbeda lagi dengan lomba menggambar. Hanya boleh diikuti siswa SLB tingkat dasar dan menengah pertama. Selain kelima lomba tersebut, ada satu jenis lomba yang dapat diikuti semua tingkatan siswa. Yakni lomba pilot drone.

Tidak hanya siswa, guru dan tenaga kependidikan juga dapat berpartisipasi. Mereka dapat ikut lomba video edukasi dan aplikasi mobile pendidikan. Kedua lomba itu menjadi ajang bagi mereka saling asah kreativitas dan keahlian bidang TIK.

Peserta kuis dan lomba dipilih lima orang siswa terbaik dari masing-masing tingkat. Selanjutnya mereka mengikuti training center di BTKP DIY. Setelah  pendalaman materi, para siswa tersebut menyampaikan presentasi. Ini merupakan tahapan terakhir di tingkat DIY. Setelah itu, dipilih satu orang siswa  SD, SMP, SMA/SMK sebagai wakil DIY di Gebyar Anugerah Kihajar tingkat nasional.

Ismy Khairyah Maryali, salah satu peserta lomba Kihajar tingkat SMA/SMK mengaku senang dan bangga. Siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta ini berhasil maju ke babak presentasi. “Tak mengira bisa lolos hingga tahap presentasi,” ujar Ismy usai mengikuti sesi kuis. (kus)