BEGITU yang diucapkan oleh Pengkor, salah satu villain dalam film Gundala. Itu pula yang saya rasakan. Harapan saya terhadap karya Joko Anwar (Jokan) sangatlah melayang tinggi, sampai-sampai saya kecanduan dan itu berbahaya.

Di film pahlawan super Indonesia perdana setelah sekian lama, sampai-sampai saya nggak ingat kapan ada film tentang pahlawan super domestik, ini kecanduanku terhadap karya-karya Jokan dapat ujian berat. Drama aksi beum pernah Jokan jajal sebelumnya. Begitu pula dengan latar plot kehidupan pahlawan super.

Sutradara domestik lainnya pun belum punya contoh karya dalam portofolio mereka. Jadi, Gundala ini adalah studi kasus combo atas kecanduan saya terhadap karya Jokan. Sepertinya, Jokan terlihat mulai kewalahan di sini.

Dengan mengangkat salah satu karakter kreasi Hasmi, Gundala, film ini betul-betul disesuaikan dengan dinamika perfilman terkini yang khusus untuk genre drama aksi pahlawan super sangat terpengaruh Jagat Sinematik Marvel (MCU).

Di sini namanya Jagat Sinema(tik) Bumilangit. Setelah sang ayah tewas dan ditinggal ibunya, Sancaka (si Gundala) berjuang sebatang kara menghadapi kerasnya hidup di Jakarta yang kian tak keruan dan jauh dari kata sifat damai. Dia tumbuh menjadi bocah dan remaja apatis. Hingga pada suatu saat ketakutannya pada petir berbalik menjadi energi kekuatan super bagi dirinya sebagai bekal dalam menghadapi kekarut-marutan negeri yang para legislatornya dikuasai kendali seorang mafia bernama Pengkor. Dengan kekuatan sambar petir yang dimiliki, Sancaka dihadapkan pada pilihan tetap apatis atau menjadi peduli.

Adegan pembuka yang agak menggebrak, meski tak meledak-ledak, cukup memancing antusiasme saya. Fase berikutnya yang merupakan pembangunan karakter Sancaka kecil ke Sancaka dewasa masih terasa nyaman saya nikmati karena kadar dramanya relatif tepat dengan maksud utama mendekatkan karakter Sancaka pada penontonnya.

Yang mulai menjadi kerikil-kerikil mengganjal di kaki bagiku adalah terlalu monotonnya penggambaran bahwa betapa sumbu pendeknya warga Jakarta pada plot film ini. Terlalu sering kita disuguhkan adegan ngluruk. Selain itu, konflik utama plot film ini sangat terasa generik. Hampir smua terasa bahwa kita telah mendapatkannya pada beberapa film-film pahlawan super yang pernah kita tonton. Celakanya lagi, upaya dalam membuat motif-motif konflik yang ada kurang argumentative akibatnya menjadi kurang meyakinkan dan tak tertangkap utuh olehku.

Bebera[a aspek teknis pun cukup menggangguku, terutama set perlintasan kereta yang dipakai berulang-ulang dan sangat tak meyakinkan keberadaannya: kereta tak pernah terlihat, bahwa melintas pun tersirat lemah, serta palang (berikut posisinya ketika membuka/naik) yang terlihat seperti set panggung ketoprak.

Di luar kekecewaanku itu semua, yang mana belum saya beberkan secara masif, saya masih bisa mengapresiasi seri pembuka jagat sinematik (pahlawan super) Bumilangit ini. Karena secara umum dengan segala kekurangannya film ini sukses membuatku ingin mengikuti jalinan ceritanya hingga akhir, justru, berkat segala kekurangannya. Terlalu melimpah ruah misteri latar belakang tokoh-tokohnya, yang memang susah terjawab sekalian di seri perdana ini. Semoga saja ada pengayaan karakterisasi di seri berikutnya.

Sidik jari Jokan masih sangat terasa di film ini, sebut saja dialog dengan celetukan-celetukan logis sarat sinisme beserta aura sinematik misterinya yang terendam dalam rona sinematik kuning-kemerahan. Tata fotografi dan ilustrasi musik masih sangat menopang kekuatan film ini untuk berdiri, meski tak bisa saya lihat ia tegap melainkan cenderung terhuyung-huyung.

Meski PR masih banyak: plot dengan konflik yang lebih menyegarkan, karakterisasi yang lebih ajeg-fokus, dan (tentuny) CGI/efek visual yang lebih memadai, saya sangat menyambut kedatangan Sancaka dkk ini dalam konstelasi dunia perfilman domestik. Selamat datang Gundala, selamat datang tantangan kreativitas bagi insane perfilman Indonesia. Pintu gerbang film pahlawan super domestik telah resmi dibuka. Mari sejenak kita rayakan beramai-ramai. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara