RADAR JOGJAPengembangan karakter berbasis budaya wajib diterapkan di dunia pendidikan. Karakter berbasis budaya akan menjadikan seseorang terbiasa berperilaku baik.

Demikian penegasan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X dalam pidato penganugerahan gelar doctor honoris causa (Dr HC) dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Auditorium UNY Jogjkarta Kamis (5/9). HB X menyandang gelar tersebut dalam bidang manajemen pendidikan karakter berbasis budaya.

HB X menyoroti kurangnya perhatian pengambil kebijakan dalam dunia pendidikan. Khususnya, dalam mengembangkan karakter yang berbasis budaya.

Dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan karakter belum menjadi prioritas dalam hal pendidikan. Pemahaman akan pendidikan karakter masih sangat jauh dari harapan. ”Faktanya, pemahaman atas pendidikan karakter masih jauh panggang dari api,” ungkapnya.

Pendidikan karakter, menurut HB X, hendaknya menjadikan seorang anak terbiasa untuk berperilaku baik. Kebiasaan baik yang dilakukan diharapkan menjadi sebuah insting dan membuat anak otomatis merasa bersalah saat tidak melakukan kebiasaan baik tersebut.

Selain itu, ada tiga pusat pendidikan yang harus bersinergi dalam merancang, mengembangkan, dan melaksanakan pendidikan. Yaitu, keluarga, sekolah, dan masyarakat. ”Karena pendidikan bukan hanya tugas sekolah. Karena sekolah hanya memberi kerangka dan melengkapi pendidikan utama di keluarga,” ujar HB X.

HB X menegaskan, pendidikan karakter berbasis kebudayaan di DIJ sudah termuat dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIJ. Berpihak pada undang-undang yang dikenal sebagai UU Keistimewaan tersebut, HB X berniat membentuk tim ahli pendidikan. Biaya yang diperlukan oleh tim ahli pendidikan akan dianggarkan dari dana keistimewaan. Tim tersebut diharapkan mampu menghasilkan kurikulum yang menerapkan pembaruan dalam bertindak dan berpikir.

Sementara itu, Rektor UNY Sutrisna Wibawa menjelaskan, penganugerahan gelar kepada HB X telah diusulkan sejak 1,5 tahun lalu. Gelar doktor HC dari UNY ini merupakan gelar ketujuh yang diterima HB X.

Menurut Sutrisna, sejak dilantik sebagai gubernur pada 1998, HB X telah fokus pada pengembangan karakter berbasis budaya. Dari pidato, makalah, dan karya HB X lainnya tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai karakter. ”Khususnya bersumber pada kebudayaan Jawa,” jelas Sutrisna.

Pendidilkan karakter berbasis budaya di DIJ, tambah Sutrisna, mampu mendorong tumbuhnya budi pekerti dan intelektual bagi setiap individu. Selain itu, penerapan pendidikan berkarakter mampu memberikan motivasi kepada siswa untuk meraih prestasi dan berintegrasi terhadap nilai serta aturan yang ada. Integritas yang terbentuk akan memacu siswa memiliki keyakinan pada potensi diri untuk menghadapi hambatan dalam proses belajar.

Sutrisna berharap, pendidikan karakter berbasis budaya yang diterapkan di DIJ mampu diadopsi pemerintah daerah lain. ”Budaya dinilai menjadi satu alternatif yang tepat dalam penerapan pendidikan karakter,” paparnya.

Suminto A. Sayuti, promotor penganugerahan gelar doktor HC untuk HB X, menuturkan, pemberian gelar kepada HB X karena promovendus dianggap mampu mengonsolidasikan kurikulum berbasis budaya. Itu bisa dilakukan melalui dinas, akademi, komunitas, hingga desa-desa budaya yang ada di DIJ.

Pemberian gelar tersebut, tambah Suminto, juga diharapkan agar pendidikan karakter yang berbasis budaya bisa diterapkan di seluruh Indonesia. ”Sampai saat ini belum ada pendidikan budaya secara nasional,” terangnya. (eno/amd)