RADAR JOGJA – Pascatahapan penulisan makalah dan uji gagasan calon sekretaris provinsi (Sekprov) DIJ, peta politik di Kepatihan berubah. Nama Assekprov Pemerintahan dan Administrasi Umum DIJ Tavip Agus Rayanto berada di atas angin.

Kondisi itu mengemuka setelah lima calon menyampaikan uji gagasan di hadapan panitia seleksi (pansel) dan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Rupanya penampilan mantan kepala Bappeda itu cukup meyakinkan.

Itu membuat beberapa anggota panitia seleksi yang diketuai Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana kepencut.  Paparan yang disampaikan Tavip mendapatkan nilai tertinggi. Dia mengungguli empat calon lain.

Termasuk Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIJ Kadarmanta Baskara Aji,  rival terkuat pesaing Tavip. “Tavip rangking satu, disusul Aji di urutan kedua, dan ketiga Drajad,” ujar seorang sumber di Kepatihan, Kamis (5/9).

Drajad yang dimaksud adalah nama Sekda Gunungkidul, Drajad Ruswandono. Dua calon lain yang terpental dari tiga besar adalah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIJ Aris Riyanta serta Kepala Dinas Kominfo DIJ Rony Primanto Hari.

Bukan hanya pansel yang terpikat. Gubernur DIJ Hamengku Buwono X kabarnya juga mulai mempertimbangkan ulang posisi Tavip. Awalnya sumber itu menginformasikan Aji lebih punya peluang. Namun belakangan ada perubahan cuaca. Angin di Kepatihan condong ke Tavip.

Sumber itu membisiki keunggulan Tavip dalam uji gagasan sudah bisa diprediksi sejak awal. Sebab, pria yang menamatkan S1 di Universitas Muhammadiyah Malang itu dikenal jago menyampaikan presentasi.

Selama memimpin Bappeda DIJ, instansi perencana itu berulang-ulang menjadi juara nasional Pangripta Nusantara Utama. “Kalau bicara casing­-nya tiada lawan,” bisik sumber itu.  Selain itu, pria yang berulang tahun setiap 11 November itu dikenal punya jaringan luas di tingkat nasional.

Bahkan seorang pejabat BKN sempat mengajukan tawaran ke Pemprov DIJ. Jika Tavip tidak dipilih menjadi Sekprov, maka BKN siap menggunakan tenaganya dijadikan pejabat eselon I di pusat.

Sebaliknya, Aji sebagai pesaing kuat, jaringannya di tingkat pusat belum seluas Tavip. Jaringan Aji lebih banyak ada di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional. Ini karena jabatan eselon II/a yang diemban Aji baru di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIJ. Alumnus Jurusan  Sosiologi Fisipol UGM itu  belum pernah mengalami mutasi di posisi lain.

Meski kans Tavip menguat, sumber lain menginsyaratkan hal itu bukan menjadi jaminan. Bisa jadi figur alternatif yang nantinya justru terpilih. Keadaan itu akan terjadi jika rivalitas Tavip dan Aji makin mengeras. Hal itu dikhawatirkan berdampak terhadap situasi birokrasi di lingkungan pemprov. ‘Akhirnya bukan dua-duanya yang dipilih,” katanya.

Alternatif ketiga yakni Sekda Gunungkidul Drajad Ruswandono menjadi pilihannya. Drajad dikenal punya pengalaman beragam. Opsi ini sama seperti saat gubernur memilih Gatot Saptadi sebagai Sekprov DIJ pada pertengahan 2017 silam.

Semula nama Gatot tak pernah masuk hitungan. Tiba-tiba, birokrat  yang per 1 Oktober depan purna tugas itu melejit. Saat itu figur yang digadang-gadang menjadi Sekprov juga ada dua.  “Antara Pak BWH dan Pak Tavip. Ternyata yang jadi bukan dua-duanya,” cerita sumber itu. BWH adalah sapaan akrab Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset DIJ Bambang Wisnu Handoyo.

Terpisah, Sekretaris Pansel Sekprov DIJ Gatot Saptadi memastikan tiga nama akan diumumkan Senin (9/9). Dia juga mengatakan secara lisan sudah melaporkan ke gubernur. Saat disinggung tiga nama yang lolos Gatot menolak menyebutkan.

Namun saat nama Tavip, Aji dan Drajad disebut, dia hanya tertawa lepas. Gatot hanya memberikan jawaban secara tersirat. “Kan orang sudah bisa memprediksi siapa-siapa yang lolos dan tidak,” elaknya. (kus/pra)