RADAR JOGJA – Sepekan pelaksanaan Operasi Patuh Progo 2019, jajaran  Ditlantas Polda DIY masih memberi catatan merah terhadap pengendara muda. Berdasarkan data sementara Operasi Patuh Progo 2019, mayoritas pelanggar adalah usia remaja. Bahkan hampir separuh diantaranya belum memiliki surat izin mengemudi (SIM).

Kasubdit Penegakan Hukum (Gakkum) Ditlantas Polda DIY AKBP Heru Setiawan menuturkan, ada beragam celah terjadinya pelanggaran tersebut. Pertama, jelas dia, adalah kebijakan orangtua terhadap akses kendaraan. Selanjutnya adalah menjamurnya penitipan kendaraan bermotor di sekitar lingkungan sekolah. “Orangtua harusnya berpikir jangka panjang sebelum memberikan akses kendaraan. Tidak hanya berbahaya untuk si anak tapi juga pengguna jalan raya lainnya,” tegasnya ditemui di Kantor Ditlantas Polda DIY Kamis (5/9).

Orangtua, lanjutnya, harus memiliki peran edukasi. Terutama memberikan pengertian atas penggunaan kendaraan bermotor. Setiap berkendara harus memiliki SIM. Selanjutnya faktor risiko bagi diri sendiri dan pengguna jalan raya lainnya.

Dalam operasi kali ini pelajar juga mendominasi. Tercatat menduduki peringkat kedua setelah profesi karyawan. Sementara untuk urutan ketiga pelanggar diduduki mahasiswa. Adapula jam rawan kecelakaan dari 06.00 hingga 18.00.

Menurut dia, pelanggaran hingga angka vatalitas itu didominasi usia produktif antara 15 tahun sampai 30 tahun. “Ini harusnya menjadi perhatian bersama. Tidak cukup dari kepolisian tapi lingkungan dan instansi lainnya,” ujarnya.

Sepekan berjalan, Operasi Patuh Progo mampu menjaring ribuan pelanggar. Sebanyak 3.000 pelanggar terjaring dalam operasi ini setiap harinya. Ditlantas Polda DIY dan Polres maupun Polresta telah menerbitkan sekitar 11 ribu surat tilang.

Dari data tersebut pelanggaran didominasi kendaraan roda dua. Berupa pelanggaran kelengkapan berkendara hingga pelanggaran marka. Adapula menggunakan gawai saat berkendara. Dominasi jumlah pelanggaran di wilayah Polres Sleman. “Kami juga menyoroti para ojek online. Rata-rata fokus mereka terbagi antara berkendara dan melihat gadget. Harusnya kalau menerima orderan jangan sambil jalan. Bisa berhenti dulu agar tidak mengganggu pengendara lainnya. Berbahaya karena bisa terjadi kecelakaan,” tegasnya.

Memasuki sepekan, Satlantas Polresta Jogja telah menerbitkan 1.333 surat tilang. Pelanggaran masih didominasi oleh kendaraan roda dua. Selain itu adapula 1.524 teguran yang diberikan kepada para pelanggar.  “Untuk tilang kami terapkan e-tilang selain sidang. Kalau yang teguran biasanya karena pakai helm tidak dikancingkan, anak tidak pakai helm atau ojek online yang bermain gadget,” jelas Kasatlantas Polresta Jogja Kompol Yugi Bayu. (dwi/pra/by)