SERANGAN koalisi tentara Madura, VOC dan pendukung Sunan Paku Buwono II dari Ponorogo benar-benar membuat laskar Tionghoa terdesak. Penopang utama kekuatan Sunan Kuning tak kuasa menghadapi gempuran pasukan koalisi.

Bobolnya pertahanan Sunan Kuning dimulai dari arah timur. Pasukan Patih Mangunoneng tak berkutik menghadapi tentara Madura. Sukawati yang berada di timur Kartasura, ibu kota Mataram, jatuh ke tangan pasukan Bupati Cakraningrat.

Tahu situasinya semakin sulit, laskar Tionghoa akhirnya balik kanan. Mereka bergegas balik ke istana Kartasura. Tujuannya menyelamatkan Sunin Kuning dari sergapan musuh. Raja kemudian diajak keluar dari keraton.

Peristiwa ini seakan-akan mengulang kejadian yang pernah dialami Sunan Paku Buwono II. Saat prajurit Mataram kalah melawan pasukan Sunan Kuning, raja harus menyelamatkan diri. Menyingkir dari istana Kartasura menuju Ponorogo pada 30 Juni 1742.

Kini kejadian itu berulang dan berbalik menimpa Sunan Kuning. Raja yang bergelar Sunan Amangkurat V itu harus rela meninggalkan takhta pada 26 November 1742. Praktis Amangkurat V menduduki takhta kurang dari lima bulan. Takhta tersingkat raja Mataram yang pernah bertakhta di Kartasura.

Amangkurat V oleh anak buahnya dibawa ke arah selatan Kartasura. Kapitan Sepanjang mengawal rombongan Sunan Kuning menuju Wonogiri. Mereka singgah lebih dulu di Desa Nguter, Sukoharjo. Berlanjut ke daerah Keduwang. Raden Mas (RM) Said, panglima perang Sunan Kuning menyusul di belakang. Said bersama adik-adiknya Pangeran Timur dan RM Ambiya mengambil jalan lewat Bayat, Klaten.

Ketika Amangkurat V meninggalkan Kartasura, situasi keraton dalam keadaan kosong. Tidak ada lagi laskar Tionghoa yang berusaha mempertahankan istana. Situasi ini memudahkan jalan bagi tentara Madura. Dengan mudah mereka menguasai takhta Mataram.

Nyaris bersamaan, pasukan Sunan Paku Buwono II juga tengah bergerak ke arah Kartasura. Namun tiba-tiba laju mereka dihentikan tentara Madura. Pasukan Ponorogo diminta menjauh dari Kartasura. Permintaan itu tidak digubris oleh Paku Buwono II. Sunan memilih transit di kediaman kerabatnya Kusumobroto di Desa Gumpang. Lokasinya ada di sebelah timur istana Kartasura.

Sunan tengah menyusun strategi sembari menunggu situasi. Sunan menyurati Kapten Von Hohendorrf. Isinya menerangkan situasi yang tengah dihadapi. Termasuk tindakan pasukan Cakraningrat yang bersikap tidak sopan melarang rombongan Sunan memasuki istananya sendiri.

Tindakan tentara Madura semakin jauh. Setelah melarang Sunan masuk ke istana, mereka secara sepihak menobatkan Pangeran Ngabehi Loring Pasar menjadi raja di Kartasura. Langkah ini atas perintah Cakraningrat.

Bupati Madura itu sejak lama menyimpan dendam politik kepada Paku Buwono II. Dia bertekad merebut takhta Mataram. Setelah itu menobatkan raja baru pengganti Paku Buwono II. Kini rencana itu benar-benar direalisasikan.

Tindakan bupati Madura itu membuat pusing petinggi Kompeni di Batavia da Semarang. Mereka tidak mengerti dengan kemauan Cakraningrat itu. Bagi VOC, Kerajaan Mataram harus dipertahankan. Takhta harus dikembalikan pada Paku Buwono II. Kompeni tidak ingin rencana itu buyar gara-gara aksi sepihak Cakraningrat.

VOC akhirnya melobi Cakraningrat ke Madura. Duta Kompeni dipimpin Residen Surabaya De Klerk bersama seorang ahli Jawa Nicolaas Hartingh. Semula Cakraningrat menolak permintaan meninggalkan Kartasura. Namun sehari setelah pertemuan, penguasa Madura itu berubah pikiran. Cakraningrat bersedia menyerahkan istana Kartasura dan memulangkan tentaranya balik ke Madura. (laz)