RADAR JOGJA – Harga ayam broiler di kalangan peternak kembali anjlok. Tercatat harga terbaru mencapai Rp 11 ribu per kilogram. Penyebab utama adalah melimpahnya stok ayam potong. Tidak hanya dari Jogjakarta, tapi juga kiriman luar kota.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertan) DIJ pun bertindak cepat. Diawali dengan afkir indukan ayam yang berusia produksi 56 minggu. Selain itu juga cutting day old chick final stock (DOC FS) atau telur ayam yang berusia 15 hari.

“Sesuai dengan surat edaran untuk menanggulangi kelebihan stok. Untuk indukan pemusnahan memasuki usia tidak produktif lagi. Juga untuk telur sebelum menetas menjadi bibit ayam,” jelasnya, Minggu(8/9).

Khusus untuk telur merupakan program nasional. Berupa cutting sebanyak 10 juta telur. Khusus untuk Jogjakarta target pemusnahan telur mencapai 1 juta telur. Sasarannya tiga perusahaan DOC di kawasan Gunungkidul.

Data Dispertan DIJ, ada sekitar 652 ribu butir telur dimusnahkan. Detailnya PT Malindo Feedmil sebanyak 505.138 butir telur, PT Janu Putra Sejahtera 88.052 butir telur dan  PT Widodo Makmur sebanyak 32.193 butir telur.

“Ketiga perusahaan ini tidak hanya memasok kawasan Jogjakarta. Mereka juga mengirim keluar daerah. Harapannya, kebijakan ini mampu menekan harga ayam broiler,” katanya.

Di satu sisi tidak semua telur dimusnahkan. Telur yang belum dierami akan dibagikan sebagai program sosial. Fokusnya adalah perbaikan gizi kepada masyarakat. Untuk pembagian telur akan melibatkan instansi terkait.

“Telur yang belum dierami belum ada embrionya, sehingga bisa dikonsumsi. Telur bisa disalurkan ke panti asuhan atau ke sekolah,” ujarnya.

Sasongko mengakui masih ada kesalahan manajemen. Para peternak cenderung memulai pembibitan di waktu bersamaan. Alhasil waktu panen juga berlangsung sama. Imbasnya stok ayam broiler di pasar melimpah.

Fenomena ini sempat terjadi di pertengahan Juli lalu. Bedanya kala itu harga ayam sangat anjlok. Harga dari peternak sempat mencapai Rp 7 ribu per kilogram. Hingga akhirnya ada upaya pembagian ayam potong oleh peternak secara cuma-cuma.

“Ini yang masih menjadi catatan kami, agar pembibitan tidak bersamaan. Kami juga meminta Disperindag memantau lalu lintas ayam hidup maupun daging ayam, karena Jogjakarta juga menerima pasokan dari luar daerah,” katanya.

Anjloknya harga ayam broiler berlangsung dua pekan. Sementara untuk harga pokok penjualan (HPP) mencapai Rp 17 ribu per kilogram.  Imbasnya beberapa peternak mengaku mengalami kerugian. Bahkan beberapa di antaranya masih enggan membuka kandang ternak lagi.

“Ruginya bisa sampai miliaran. Rinciannya rugi sekitar Rp10 ribu per kilogram. Sejak Juli lalu banyak yang berhenti ternak. Menunggu sampai kondisi membaik,” jelas Ketua Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (Apayo) Hari Wibowo. (dwi/laz)