RADAR JOGJA – Ratusan payung dengan beragam corak dan warna menghiasi kompleks Candi Prambanan sejak Jumat (6/9). Payung itu bukan hanya berasal dari Indonesia. Ada dari Thailand, Jepang, Tiongkok, dan beberapa negara lain.

Minggu (8/9) merupakan hari terakhir Festival Payung Indonesia 2019 bertajuk “Sepayung Daun”. Adanya payung dengan berbagai macam warna itu menjadi daya tarik tersendiri. Banyak wisatawan yang penasaran dan kagum. Apalagi ditambah background Candi Prambanan yang megah. Hal itu langsung menjadi objek foto para pengunjung.

Seperti yang dilakukan Sanny, 42, asal Jakarta. Sedari pukul 10 dia mulai berkeliling sambil mengabadikan momen. “Ini instagramable. Sudah berkeliling tapi tidak puas-puas,” ujarnya kemarin.

Perempuan yang saat ditemui tengah berfoto dengan temannya itu menuturkan, pada awalnya tidak tertarik. Namun saat salah seorang temannya menunjukkan foto dari festival tersebut, tanpa pikir panjang lagi dia lantas menyisihkan waktu untuk datang.

“Padahal tadinya ke Jogja karena ada urusan kerja. Tapi lihat foto teman jadi ingin ke sini dan sampai sini ternyata bagus banget,”  katanya kagum.

PJ Event Heru Mataya menjelaskan, selain berbagai koleksi payung tradisi dari negara tetangga, tak ketinggalan payung dari Indonesia juga ditampilkan. Hal ini untuk melestarikan eksistensi payung tradisi yang makin sedikit peminatnya.

Menurutnya, di Indonesia ini beda dengan negara tetangga. Dia mencontohkan seperti di Tiongkok, pemerintah melarang penggunaan payung pabrikan agar kerajinan payung tetap bertahan. Tetapi  karena menganut kebijakan pasar bebas, akhirnya payung tradisi kalah bersaing dengan payung buatan pabrik. “Ini upaya untuk mengenalkan sekaligus melestarikan,” ujar Heru.

Heru menjelaskan, sebagai sebuah festival seni rakyat, kemasannya melibatkan puluhan seniman serta perajin payung lokal. Harapannya melalui festival semacam ini, sentra-sentra kerajinan payung yang ada di Indonesia mendapatkan tempat di hati wisatawan. “Selain itu  harapannya juga mampu mengembangkan potensi industri kerajinan rakyat,” bebernya.

Sementara itu, GM Unit Candi Prambanan Aryono Hendro M mengungkapkan, event ini merupakan agenda tahunan setelah kali pertama  diselenggarakan tahun 2014 di Taman Balai Kambang, Solo. Menurutnya, festival tersebut turut berdampak pada kunjungan wisatawan.

“Tahun lalu Taman Wisata Candi mencoba menghias beberapa sudut di kawasan Borobudur dan Prambanan  dengan hiasan-hiasan payung. Dampaknya ternyata luar biasa,” ujar Aryono. (har/laz)