RADAR JOGJA – Perilaku self-harm atau menyakiti diri sendiri pada remaja merupakan masalah kesehatan mental yang serius.

Dilansir dari jawapos.com, dokter spesialis kesehatan jiwa di RSUD dr Soetomo Dr dr Yunias Setiawati SpKJ (K) mengungkapkan, seminggu rata-rata menerima sekitar 10 pasien remaja. Mereka datang dalam keadaan sudah menggores tangan sendiri (self-cutting). Bahkan, ada yang datang setelah mencakar dan membenturkan diri ke tembok.

Dia menguraikan, remaja yang melakukan self-harm tersebut berusia 13-15 tahun. Ada pula kelompok usia dewasa awal, yaitu sekitar 19 tahun. Proporsi pasien perempuan lebih banyak jika dibandingkan dengan laki-laki.

Menurutnya, perilaku self-harm muncul dengan depresi dan kecemasan. Kondisi itu diawali berbagai hal. Yang paling sering adalah trauma masa anak-anak. Misalnya, terjadi karena dari kecil dimarah-marahi oleh orang tua.

Dokter Yunias menerangkan, mereka melakukan itu bukan untuk bunuh diri, tetapi untuk melampiaskan emosi. Self-harm akan menimbulkan kecemasan pada anak. Kemudian, anak mulai sering menarik diri dan menyendiri.

”Jika sudah begitu, remaja bisa melakukan self-harm agar orang lain tahu bahwa dirinya sakit,” papar Yunias.

Pemicu lain remaja melakukan self-harm adalah orang tua yang sering melakukan labeling. Misalnya, mengecap anak bodoh atau malas. Nah, yang akhir-akhir ini muncul adalah self-harm yang dipicu depresi lantaran penggunaan media sosial.

”Mereka depresi karena membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain di dunia maya,” ucap Yunias.

Jika sudah mengetahui anak melakukan self-harm, orang tua harus segera memberikan bantuan untuk meredakan depresi. Dia memberikan saran agar tidak ragu mengajak remaja berbicara untuk mengungkapkan perasaannya.

Saling berbicara adalah kunci untuk meredakan emosi. Ini yang sering tidak disadari para orang tua.”Mereka kadang lupa mengajak bicara anaknya,” tuturnya.

Jika hal tersebut tidak membantu mengurangi depresi pada remaja, jalan selanjutnya adalah membawa ke psikiater atau psikolog. Pastikan mereka menghadiri semua sesi terapi atau mengonsumsi obat yang diberikan. (jpc/ila)