RADAR JOGJA – Puluhan layangan menghiasi langit Dusun Ngaran, Margokaton, Seyegan, Sleman, Minggu sore (15/9). Mengikuti gelaran festival layangan Ngaran. Sebanyak 50 layangan dari berbagai daerah, ukuran, dan bentuk mengikuti acara itu.

Paling besar layangan berbentuk naga. Jumlahnya ada tiga. Dengan panjang 50 meter. Ada juga layangan berbentuk pesawat, burung, kupu-kupu, tokoh wayang dan superhero.

Ketua Panitia Festival Layang-Layang Ngaran 2019 Aris Riyanto mengatakan ada nilai historis dari acara tersebut. Yakni untuk spiritualitas dan agrikultur. Untuk agrikultur, layangan digunakan untuk mengusir hewan perusak ladang atau kebun. Sekaligus pengusir bosan selagi berladang.

‘’Namun, kebiasaan menerbangkan layang-layang ini pun mulai ditinggalkan, terutama di persawahan,’’ terangnya.

Dia mengatakan, festival yang baru pertama diselenggarakan ini beda dengan yang lain. Karena biasanya festival semacam ini digunakan untuk menggaet wisatawan. ‘’Tapi kalau di sini tujuannya mengajak generasi milenial untuk mengenal sawah,’’ katanya.

Antusiasme masyarakat nampak terlihat jelas. Festival di areal persawahan luas menyedot ratusan penonton. Tua, muda, pria, wanita tumpah ruah memadati lokasi. Sorak-sorai penonton pecah saat ada layangan bisa diterbangkan. Sesekali mereka berteriak ketika ada layangan yang akan bertabrakan atau yang gagal terbang.

‘’Dulu banyak orang yang bermain layangan di sawah. Tapi sekarang semakin sedikit karena banyak alih fungsi lahan, makanya ini sebagai bentuk menumbuhkan kecintaan kepada sawah agar tetap lestari,’’ katanya.

Aris menjelaskan, untuk menjaga tetap lestari pihaknya juga meminta masyarakat membawa air minum dari rumah. Ini juga bagian dari kampanye untuk meminimalisasi penggunan plastik sekali pakai.

‘’Kami mengampanyekan bebas plastik. Mengajak masyarakat lebih aware terhadap lingkungan dan ekosistemnya,” kata dia.

Festival tersebut mendapat perhatian budayawan Djaduk Feriyanto. Dia datang sekitar pukul 15.42. Menurut dia, festival layangan ini berbeda dengan yang biasa diselenggarakan di pantai. ‘’Ini kan tujuannya bukan untuk pariwisata. Beda kalau di pantai. Kalau ini nantinya jadi agenda rutin tahunan dan pariwisata maka harus ditinjau lagi,’’ katanya.

Djaduk mengatakan, jika tujuannya untuk melestarikan sawah, sebaiknya layangan yang ditampilkan juga yang ada nuansa sawah. Seperti layangan bentuk petani, Dewi Sri, tikus, dan sebagainya. “Agar selaras dengan tema. Tapi ini juga sudah sangat bagus,” kata Djaduk. (har/iwa/rg)