SEBAGIAN harus impor dari mancanegara. Dikerahkan lurah undagi atau tukang kayu dipimpin Kiai Prabasena. Mereka mengerjakan kayu jati dari Alas Kethu, hutan di dekat Wonogiri Kota, yang dihanyutkan melalui Bengawan Sala.

Tata ruang atau lanskap ibu kota Mataram yang baru itu tidak banyak berubah dengan kerajaan Islam sebelumnya yang berawal dari Keraton Demak 1478. Istana ada di selatan alun-alun dan dilengkapi masjid di barat alun-alun.

Pujangga Yasadipura I dalam riwayat kehidupannya 1729-1803, menegaskan Keraton Surakarta dibangun dengan “anelad Kartasura” atau mencontek Kartasura. Sedangkan Darsiti Soeratman dalam desertasinya berjudul Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1893-1939, menggunakan istilah “Keraton Sala mutrani Keraton Kartasura”.

Setelah semuanya dinyatakan tuntas, Sunan Paku Buwono II menetapkan hari H proses pindah ibu kota dari Kartasura ke Desa Sala. Proses boyong kedhaton itu dilaksanakan pada Rabu 17 Sura Je 1670 atau 17 Februari 1745.

Setelah ditetapkan menjadi ibu kota Mataram, nama Desa Sala oleh Paku Buwono II kemudian diganti menjadi Surakarta Hadiningrat. Sunan memerintahkan perpindahan ibu kota sesuai tradisi para raja terdahulu. Ibu kota dipindahkan lewat prosesi kirab agung.

Prosesi diawali dengan kehadiran Paku Buwono II dan permaisuri di Bangsal Sitihinggil Keraton Kartasura diiringi para perempuan penari Bedhaya Serimpi. Mereka disambut tembakan meriam, bunyi  gamelan, dan tiupan terompet.

Iring-iringan mengarah ke tenggara. Diawali abdi dalem pembawa sepasang pohon beringin muda untuk ditanam sebagai beringin kurung. Kini kedua beringin itu berdiri kokoh di Alun-Alun Utara Keraton Surakarta. Dikenal sebagai beringin Kyai Dewandaru dan Kyai Jayandaru.

Selanjutnya abdi dalem prajurit kalang, gowong, undhagi dan selakerti. Berikutnya gajah tunggangan Sunan lengkap dengan busananya yang diapit oleh abdi dalem srati. Kuda tunggangan Sunan diiringi abdi dalem penjaga kandang.

Kemudian para abdi dalem bupati nayaka jawi kiwa dan tengen dari Panumping, Panekar, Sewu Numbak Anyar, Siti Ageng Kiwo dan Tengen, Bumi serta Bumija. Semua naik kuda dan berpayung, selanjutnya gamelan-gamelan terdiri Kyai Surak, Kyai Sekar Delima dan Kyai Sekar Gadhung, lengkap dengan payung kuning sebagai naungan.

Di belakangnya menyusul patih Adipati Pringgalaya dan Adipati Sindureja disertai benda-benda upacara kepatihan. Pangeran Adipati Anom naik kuda, berpayung diiringi abdi dalem Kadipaten Anom. Urutan selanjutnya bedug yang diiringi abdi dalem merbot, penghulu, katib, ulama, dan pradikan berkuda serta berpayung,

Abdi dalem gandhek mantri anom berpayung kuning membawa tombak milik Sunan dan benda-benda upacara kerajaan seperti banyak dhalang sawung galing. Benda-benda pusaka kerajaan, seperti bendhe (canang) Kyai Bicak. Pembawanya naik kuda berpayung kuning.

Abdi Dalem Gajah Mati membawa carak Kyai Nakula Sadewa dan cemeti milik raja Kyai Pecut. Pekerja dapur  membawa perlengkapan dapur serta upeti para adipati mancanagara.  Nyai Gandarasa naik tandu menjaga pusaka Dandang Kyai Dhudha, pusaka Panjang Kyai Blawong, dan kendil Kyai Marica,

Total peserta kirab pindah ibu kota ini mencapai limang leksa atau 50.000 orang. Perjalanan berlangsung sangat lambat. Terlebih  jalur dilalui mula-mula merupakan jalan setapak melewati hutan dan semak belukar.

Hutan dan semak belukar itu harus ditebas lebih dahulu untuk dijadikan jalur perpindahan ibu kota. Jalannya kirab membutuhkan waktu tujuh jam  dari istana lama di Kartasura hingga ibu kota baru di Surakarta.

Peristiwa pindah ibu kota itu merupakan kali terakhir dalam sejarah Dinasti Mataram.  Sebelumnya, perpindahan ibu kota dilakukan Sultan Agung dari Kotagede ke Kerta 1618. Kemudian anak Sultan Agung, Amangkurat I memindahkan ibu kota dari Kerta ke Plered pada 1647. Selanjutnya Amangkurat II memindahkan dari Plered ke Kartasura pada 1680. Itu terjadi setelah istana Mataram jatuh ke tangan Trunajaya pada 1677.

Setelah Surakarta tak ada lagi perpindahan ibu kota Mataram. Namun 10 tahun kemudian Kerajaan Mataram justru pecah. Lahir kerajaan baru bernama Ngayogyakarta Hadiningrat lewat Perjanjian Giyanti pada 1755. (habis/laz)