RADAR JOGJA – Sebanyak 200 seniman baik individu maupun kelompok terlibat dalam pameran seni rupa Nandur Srawung. Pameran ini dihelat sepanjang 18 – 27 September 2019 di TBY, Gondomanan, Jogja.

Perhelatan seni rupa bersama ini bermaksud untuk mempertemukan perupa-perupa lintas generasi, lintas disiplin, dan lintas komunitas. Kurator pameran Rain Rosidi mengungkapkan, kegiatan dihelat untuk memperkuat gagasan mengenai srawung, melalui tema dan bentuk kegiatannya.

”Visi dari pameran ini yakni sebagai titik temu para perupa, komunitas, pegiat seni, penikmat seni dan masyarakat umum,” ungkapnya.

Kurator yang juga dosen ISI Jogjakarta ini menuturkan, tema yang diambil adalah Gegayutan atau bersama-sama. Tema ini selaras dengan konsep komunitas Peer to Peer. Maksudnya pengetahuan dibagikan secara langsung dan merata dengan hak dan kewajiban yang disepakati, tanpa sentralisasi satu pihak atau institusi tertentu.

Semangat Gegayutan menjadi titik penting dan acuan terselenggaranya kegiatan pameran. ”Kebersamaan selaras dengan Jogja yang masih mengedepankan asas gotong royong, tepo seliro, dan saling berbagi,” paparnya.

Menurutnya, Nandur Srawung menyuguhkan karya-karya yang akan membuat publik dan masyarakat secara umum teringat dan merasakan kembali pentingnya makna berbagi dan kebersamaan.

Pameran yang sudah diselenggarakan untuk kali ke enam ini menawarkan beberapa program baru. Salah satunya adalah Srawung Panggih. Tujuannya untuk membangun jejaring global. Pada tahun ini, pemenang Young Rising Artist Award dan satu orang kurator akan mengunjungi institusi seni di Malaysia dan Singapura.

”Di masa yang akan datang, tim akan melakukan kunjungan dan pertukaran pengalaman antara perupa di Jogja dengan perupa-perupa yang berasal dari negara di Asia Tenggara,” tambahnya. (cr16/ila)