RADAR JOGJA – Lebih dari seribu anak berkebutuhan khusus (ABK) memadati Museum Benteng Vredeburg Jogja, Kamis (19/9). Suasana riuh anak-anak menyertai kegiatan bertajuk Mendongeng Bersama 1.000  ABK. Kegiatan ini dicatatkan sebagai rekor ke-9.167 di Museum Rekor Indonesia (MURI).

Upaya pemecahan rekor MURI menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam Vredeburg Fair yang dihelat sepanjang 19-24 September dengan tema Prestasi Tanpa Batas. Pesertanya berasal dari 47 sekolah luar biasa (SLB) dan sekolah inklusi di DIJ. Mereka merupakan anak-anak dari berbagai ketunaan.

Sekitar lebih dua jam, Komunitas Kampung Dongeng menghibur seribu ABK. Sesekali, pesertanya tertawa mendengar lawakan pentutur cerita yang tampil. Anak tunga rungu pun tak kesulitan menyimak kisah yang disampaikan. Sebab, panitia menyiapkan komunikator bahasa isyarat, yang sigap menerjemahkan setiap perkataan si pendongeng.

Kegiatan mendongeng anak-anak dipilih dalam rangka menggugah orang tua dan wali siswa untuk kembali menerapkan kebiasaan mendongeng.

Kepala Museum Benteng Vredeburg Suharja menjelaskan, aktivitas mendongeng kini sudah redup. Tak banyak dilakukan lagi. Padahal, dongeng dapat menjadi media edukasi efektif dalam pendidikan kebudayaan, karakter, wawasan kebangsaan, identitas, dan jati diri.

”Saya berharap dengan terpecahkannya rekor MURI ini dapat menggunggah para orang tua. Karena sekarang, terutama generasi muda kita sudah diserang dengan gadget. Sehingga, anak muda banyak yang ketergantungan dengan gadget,” paparnya ditemui di sela acara.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti perhatian Museum Benteng Vredeburg kepada penyandang disabilitas. Menurut Suharja, tiap anak perlu mendapat perhatian tanpa memandang kondisi fisiknya.

”Di museum, ABK dan lansia tidak dikenai tiket masuk. Kalau tidak bisa jalan, kita siapkan kursi roda dan nanti akan ada yang membantu mendorong. Di WC juga ada fasilitas khusus difabel. Ini adalah contoh fasilitas ramah difabel di museum,” jelasnya.

Eksekutif Manajer MURI Sri Widayati menganggap pencatatan rekor ini sebagai kegiatan spektakuler. ”Tercatat ada 1.295 anak berkebutuhan khusus yang hadir mengikuti acara. Ini juga bukti perhatian pihak museum terhadap ABK,” jelasnya.

Dia memaparkan, ada empat kriteria utama untuk bisa tercatat dalam rekor MURI. Acara kali ini dicatatkan dalam kriteria paling pertama unik dan langa (PPUL). ”Karena pesertanya banyak dan jarang terjadi. Ini baru pertama kalinya ada kegiatan mendongeng untuk ABK”, paparnya.

Sri melanjutkan, MURI telah mencatat beragam rekor yang diciptakan oleh ABK. Misalnya, Delli Meladi asal Semarang. Anak tuna netra yang hapal 650 lagu dan dinyayikan tanpa henti.

Ada pula Rafi Abdurrahman Ridwan. Dia merupakan penyandang tuna rungu termuda perancang busana berperstasi. Dia menjadi satu-satunya perancang termuda pada ajang Americas Next Top Model Cycle 20 Guys & Girls Episode di Bali. ”Kita sangat mengapresiasi prestasi anak-anak berkebutuhan khusus,” jelasnya.

Dia menghimbau anak berkebutuhan khusus tidak berkecil hati dengan segala keistimewaan yang mereka memiliki. Mereka dapat berprestasi di bidang yang digemari. ”Dengan terciptanya rekor-rekor yang dicatatkan ABK, harapanya dapat memberikan motivasi dan menambah semangat mereka supaya tidak berkecil hati,” ujarnya.

Sri berharap kegiatan mendongeng khusus bagi ABK ini diharapkan dapat menjadi program berkelanjutan. Sebab, ABK memiliki keistimewaan yang berbeda dari anak-anak lainnya. (cr16/amd)