RADAR JOGJA – Tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah ASEAN Traditional Textile Symposium ke-7. Acara simposium dan ekspo dua tahunan untuk ahli tekstil se-Asean ini akan digelar di Royal Ambarrukmo Jogjakarta, 4-8 November mendatang.

Acara yang diselenggarakan oleh Traditional Textile Arts Society of South East Asia (TTASSEA) ini bertujuan untuk memajukan pengetahuan ilmiah tekstil tradisional dalam hal materi, motif, dan teknik.

“Kami mengedepankan tentang bagaimana wastra bisa dikenal dan disayang oleh masyarakat,” jelas GKBRAA Paku Alam selaku presiden TTASSEA, saat jumpa pers di Rumah Kreatif Jogja, Kamis (19/9).

Menurut permasiuri Paku Alam yang akrab disapa Gusti Putri ini, wastra di ASEAN maju karena orang-orang di dunia menyukai wastra di Asia Tenggara, negara-negara yang terkenal kokoh dengan handmade-nya.

Sementara itu koordinator acara KRT Radya Wisraya Sumartoyo mengatakan, Jogjakarta dipilih karena memiliki banyak insan kreatif dan terkenal dengan batiknya sebagai kota batik dunia, juga ada tenun, dan lurik.

“Ini terbuka untuk umum. Kami berharap kalau selama ini tekstil kebanyakan yang mengoleksi di usia 40 ke atas, di sini justru mengarah kepda kaum milenial,” ungkapnya.

Sumartoyo menyebutkan, simposium dan ekspo akan diikuti oleh lebih dari 22 negara, terdiri dari 12 negara ASEAN dan negara mitra Asia seperti Cina, Jepang, Inggris, Kanada, Australia, Korea, dan lain-lain. Selain simposium, ada kegiatan pendukung seperti pameran tekstil dari berbagai negara, call for paper, lomba fotografi, lomba kerajinan wastra, field trip, serta workshop. Untuk ekspo dan workshop, juga melibatkan para UMKM DIJ dalam bidang tekstil tradisional dan turunannya.

“Acara akan dibuka oleh ibu negara, digadiri para istri duta besar negara-negara yang ada di Indonesia, serta ibu-ibu dan istri para menteri,” ujarnya. (tif)