RADAR JOGJA ­ Basiyo pantas disebut sebagai legenda pelawak Jawa. Sebagian kalangan tua, khususnya orang Jawa, siapa sih yang tidak mengenal sosok ini. Nama Basiyo juga telah dikenal khalayak umum di luar Jogja melalui siaran radio, televisi dan berbagai rekaman lawakannya yang dikenal dengan Dagelan Mataram.

Memiliki ciri khas yang menempel pada lawakannya, Basiyo selalu menampakkan lawakan yang bersifat spontan, sederhana, dan menggambarkan rakyat jelata. Menggabungkan alunan musik tradisional Jawa berbasis Pangkur Jenggleng dengan lawakannya, tidak membuat Basiyo keluar dari jalur lawak.

Hal itulah yang membuat sosok Basiyo masih tetap memiliki penggemar, kendati ia sudah 40 tahun meninggal dunia. Meskipun bukan dari kalangan muda, seorang dalang wayang kartun Bagong Soebardjo, masih mengagumi sosok Basiyo. Lawakan-lawakan yang diangkat dari kehidupan sehari-hari, membuat lontaran kalimat dari Basiyo mudah diterima.

Tidak hanya itu, tanpa adanya naskah dan skenario yang matang, Basiyo tetap mampu membawakan pentas mengalir mengikutinya. “Dengan siapa dan apa pun materinya, bisa dibuat guyonan sama Pak Basiyo,” jelas Bagong saat ditemui di rumahnya, Tempel, Sleman, Jumat (20/9).

Bagong menggambarkan Basiyo sebagai sosok yang menyebalkan, namun lucu. Lawakan spontanitas membuat Basiyo yang kalau masih hidup kini berusia 103 tahun (lahir 1916 dan meninggal 1979) itu tidak mudah tergantikan oleh pelawak lainnya. Bahkan, tidak ada yang bisa menyamai seorang Basiyo.

Pernah ada, tambah Bagong, anak muda yang menyerupai Basiyo saat adanya perlombaan Dagelan Mataram khas milik Basiyo. Dari logat dan gayanya, semua mirip dengan apa yang dilakukan Basiyo saat melakukan lawakan semasa hidupnya. Meskipun ada beberapa kemiripan, tetap tidak bisa menyamai sosok Basiyo.

Di masa muda saat duduk di bangku SMP sampai SMA, Bagong selalu menyempatkan untuk mendengarkan lawakan Basiyo. Tak hanya itu, ia rela berjalan kaki hanya untuk melihat  penampilan Basiyo secara langsung. “Saya ingatnya waktu beliau pentas di Gedongkuning, Pakuningratan dan daerah Kotagede,” ingat Bagong.

Ide-ide lawakan Basiyo, saat ini juga masih banyak dipakai oleh pelawak lainnya. Untuk mengobati kerinduannya, Bagong memiliki rekaman lawakan Basiyo yang disimpan pada gawainya. Dengan format MP3, Bagong dengan mudah memutar dan mendengarkan lawakan Basiyo untuk mengobati kerinduannya.

“Kalau berupa kaset masih ada dan banyak. Tapi itu hanya untuk disimpan, karena alat untuk memutarnya juga sudah tidak ada,” tambah Bagong. (eno/dwi/laz)