RADAR JOGJA – Gunung Merapi mulai menggeliat. Gunung api teraktif di dunia yangt terletak di perbatasan Jateng-DIJ ini Minggu (22/9) meletus dengan meluncurkan awan panas vertikal dan guguran lava.

Berdasarkan data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi (BPPTKG) Jogjakarta, ketinggian kolom awan panas mencapai 800 meter. Sementara untuk jarak luncuran lava terjauh mencapai 1.100 meter.

Dari data yang sama tercatat guguran terjadi selama 125 detik. Detailnya satu kali letusan awan panas vertikal dan empat kali guguran lava. Imbasnya terjadi hujan abu vulkanik di beberapa kawasan lereng  Merapi.

“Dari pantauan CCTV, puncak terpantau ada letuasan awan panas. Penyebabnya adalah kandungan gas. Ada pula empat kali guguran lava dengan jarak 600 hingga 1.100 meter arah hulu Kali Gendol,” jelas Kepala BPPTKG Hanik Humaida, Minggu (22/9).

Hanik memastikan kondisi ini masih relatif aman. Status keaktifan Gunung Merapi tetap dipertahankan level waspada. Hingga kini pertumbuhan kubah lava telah mencapai angka 468 ribu meter kubik. Angka ini cenderung stagnan sejak medio Januari 2019.

Berdasarkan pantauan CCTV dan drone, belum terjadi perubahan morfologi. Pantauan terfokus di sektor tenggara. Hanik memastikan tidak ada rekahan baru di kawasan puncak. Ini karena desakan lava dari dapur magma cenderung menurun.

“Deformasi pada minggu ini tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Kubah lava dalam kondisi stabil dengan laju pertumbuhan yang masih relatif rendah,” katanya.

Data ini pula yang membuat BPPTKG mempertahankan status waspada. Terlebih produksi dapur magma masih terjadi. Artinya kawasan puncak masih ada aktivitas. Mulai dari guguran lava hingga luncuran awan panas.

“Kenapa statusnya tidak turun karena masih ada aktivitas vulkanologi. Acuan waspada ini agar warga tidak beraktivitas radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi,” ujarnya.

Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Sleman Makwan memastikan tidak ada kepanikan. Hujan abu di sisi barat Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, berlangsung dalam hitungan menit. Berdasarkan pantauan timnya, hujan abu terjadi antara 12.30 hingga 12.54.

Terkait kebutuhan masker masih terpenuhi. Dia memastikan stok masker di kawasan Tunggularum masih ada. Terlebih masih ada stok masker milik Posko BPBD Sleman. Seluruhnya akan didistribusikan apabila dibutuhkan.

“Abu langsung hilang tertiup angin. Arah anginnya ke barat laut. Saat kejadian tidak ada kepanikan dan kondusif. Warga juga belum membutuhkan masker karena hujan abunya tipis,” katanya. (dwi/laz)