RADAR JOGJA – Kiprah Ismi Sutarti sebagai anggota DPRD Sleman tak diragukan lagi. Periode lalu Ismi konsisten mengawal pembangunan infrastruktur lewat komisi C. Di periode 2019-2024 politikus Partai Nasdem itu bertekad melanjutkan program-program yang telah dicanangkannya.

Pemenuhan hunian layak bagi warga miskin menjadi salah satu fokus perhatiannya. Ismi ingin seluruh warga Sleman memiliki hunian layak. Baik bentuk fisik rumah maupun lingkungan di sekitarnya. Termasuk ketersediaan fasilitas umum dan fasilitas sosial. Pun demikian sarana sanitasinya. “Sanitasi ini penting. Demi kesehatan masyarakat,” tutur Ismi kemarin (22/9).

Sleman telah memiliki aturan tentang sanitasi. Termasuk di dalamnya ketentuan tentang sistem pembuangan air limbah. Diatur dalam peraturan daerah tentang pengelolaan air limbah domestik.

“Aturan ini tak sekadar harus ditegakkan. Pelaksanaannya juga perlu pengawasan,” ingat sosok kelahiran 20 Februari 1964.

Kendati demikian, Ismi mewanti-wanti para pemangku kebijakan. Agar tak sekadar menegakkan aturan. Tapi juga harus memberikan solusi. Bagi masyarakat yang memang belum mampu menjalankan regulasi.

Contohnya warga yang belum punya jamban. Sehingga mereka masih buang air besar di sungai atau ladang. “Warga yang seperti itu perlu dibantu. Pemerintah harus turun tangan,” pintanya.

Sanitasi juga menjadi persoalan tersendiri di kawasan permukiman padat penduduk. Di kawasan tersebut, menurut Ismi, pemerintah perlu membangun instalasi pembuangan air limbah (ipal) komunal. Ini demi mencegah munculnya lingkungan kumuh. “Untuk membangun sarana itu (ipal komunal, Red) bisa dimintakan anggaran pusat. Termasuk untuk jambanisasi,” kata tokoh asal Dusun Jembangan, RT 02/RW 08, Tirtoadi, Mlati, Sleman.

Selain anggaran pemerintah, program corporate social responsibility (CSR) perusahaan swasta perlu lebih digalakkan. Pemerintah daerah bisa menggandeng perusahaan swasta untuk membangun sarana sanitasi di wilayah masing-masing. Bisa juga menggandeng badan usaha milik daerah.

Sedangkan bagi masyarakat yang belum punya jamban, Ismi mengimbau agar tidak “bab” sembarangan. Apalagi di sungai.  Sebab, kotoran manusia akan mencemari  sungai. Air sungai bakal terkontaminasi bakteri e-coli. Bakteri ini cukup membahayakan kesehatan manusia.

Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran seluruh masyarakat. Untuk membiasakan diri berperilaku hidup bersih dan sehat. “Membangun kesadaran masyarakat memang bukan hal mudah. Tapi itu bukan berarti tidak bisa,” tegas perempuan bergelar sarjana hukum itu.

Menurut Ismi, pemerintah harus lebih gencar sosialisasi. Menjelaskan pentingnya sanitasi, bahaya “bab” sembarangan, dan menggali persoalan seputar kesehatan lingkungan masyarakat. Dari situlah pemerintah akan mendapatkan bahan untuk menentukan solusi terbaik.

Persoalan lain yang juga menjadi sorotan Ismi adalah pembangunan infrastruktur jalan. Politikus asal daerah pemilihan Sleman 5 (Mlati-Gamping)  itu berharap, pembangunan maupun pemeliharaan jalan tidak hanya dipusatkan di wilayah perkotaan.

Jalan-jalan pedesaan juga harus disentuh. Terlebih di desa-desa yang saat ini belum berlapis aspal. Yang hanya berupa tanah dan bebatuan. “Dengan jalan mulus yang didukung sarana penerangan memadai, tingkat kerawanan sosial di wilayah itu pasti akan terkikis,” ucapnya.

Di bagian lain, geliat kepemudaan juga menjadi perhatian Ismi. Peraih 4.946 suara pada Pemilu Legislatif 2019 itu berharap potensi pemuda lebih dimaksimalkan. Demi mengikis kenakalan remaja.

Pemuda bisa difasilitasi dengan kegiatan olahraga. Mengenai hal ini Ismi punya target tersendiri. Untuk menggerakkan potensi pemuda lewat padukuhan dan desa. Menurut Ismi, sejauh ini sudah ada beberapa desa yang para pemudanya siap bekerja sama. Untuk menggali potensi bersama. Demi kemajuan bersama pula.(*/yog)