RADAR JOGJA – Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya adalah satu-satunya kelompok ketoprak tobong di Jogjakarta yang masih aktif berkiprah. Di tengah sepinya penonton, Dwi Tartiyasa, pemimpin kelompok itu, bertekad terus mementaskannya.

Susah mencari ketoprak tobong di Jogjakarta. Kini hanya tersisa satu kelompok ketoprak tobong. Lainnya sudah hilang tergilas zaman. Kelompok yang masih eksis tersebut yakni Kelompok Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya.

Kelana Bhakti Budaya adalah versi lebih lanjut dari ketoprak Sri Budoyo yang lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 1992. Kelompok ini sempat berganti nama menjadi Candra Kirana pada 1994.

Mereka sempat vakum berkiprah sepanjang 1999. Akhirnya, pada 23 Juli 2000, datang pendeta bernama Dwi Tartiyasa. Lelaki tersebut sekarang berusia 71 tahun. Dia tinggal di Padukuhan VIII Janten RT 04 Ngestiharjo, Kasihan, Bantul.

Pendeta Dwi menaruh perhatian dan berempati terhadap nasib kelompok ketoprak itu. Dia sejatinya bukan seniman. Bukan pula hartawan. Tapi, dia bersedia menopang biaya pentas kelompok ini. Bahkan, dia memikul biaya hidup para personel Kelana Bhakti Budaya. Sumber pendanaannya sebagian keluar dari sakunya. Sebagian lainnya diperoleh lewat penggalangan donasi.

Sejak awal, Kelana Bhakti Budaya memilih tobong yang bohemian sebagai model presentasinya. “Karena seperti hidup, harus berkelana,” ujarnya.

Tobong merujuk pada kata dalam bahasa Jawa yang bermaksan bangunan tidak permanen yang terbuat dari bambu dan material sederhana lainnya. Tobong biasanya digunakan kelompok seni pertunjukan tradisional, seperti ketoprak, untuk mementaskan lakon-lakonnya.

Tobong juga merupakan situs hunian berpindah bagi para personel kelompok seni. Jenis ketoprak tobong ini banyak lahir dan tenar di Jawa Timur sejak 1960-an. Termasuk Kelana Bhakti Budaya.

Secara periodik dan berombongan, mereka berpindah lokasi dengan memboyong panggung dan layar tonil dari satu daerah ke daerah lainnya di Jawa. “Tobong ini saya ibaratkan sebagai benteng pungkas tak lelah berhias menembus batas,” kata Dwi saat ditemui di kediamannya.

Kelompok ini berpengalaman membawakan aneka lakon. Di antarnya, Babad Tanah Jawi, Mataraman, Majapahitan, Pesisiran, hingga lakon dari Jazirah Persia.

Sembilan tahun silam anggota kelompok ini boyongan ke Jogjakarta. Itu bersamaan dengan perpindahan tugas Dwi ke Jogjakarta. Selama itu, mereka keliling manggung di Bantul, Kulonprogo, Sleman, dan Gunungkidul.

Sejak 2015, Dwi dan anggota kelompok tinggal di Dusun Brayut, Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Sebelumnya, mereka menetap selama empat tahun di Dusun Bayen, Kalasan, Sleman.

Idealnya, ketoprak tobong pindah lokasi tiga bulan sekali. Tapi, untuk setiap kepindahan, dibutuhkan ongkos hingga belasan juta rupiah.

Mengingat tidak memiliki dana, mereka bisa saja bertahan di satu tempat hingga setahun. Sebab, uang yang mereka perolah murni hanya datang dari penonton. “Tobong ini nonprofit. Kelompok ini pengabdian total,” ucapnya.

Sebenarnya ada sumber dana lain. Yaitu, dari donatur. Namun, sejak dua tahun terakhir kelompok ini tidak mendapatkan suntikan dana lagi. Sebab, sang donatur utama telah meninggal dunia.

Masalah finansial itu tak lantas membuat Dwi membubarkan kelompok tobongnya. Dia melanjutkan dan melestarikan kesenian Jawa ini. Meski, dia harus tombok setiap kali pentas. “Sekali pentas biasanya nombok Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu,” terangnya.

Pentas hanya dilakukan pada Jumat malam. Panggungnya berada di Dusun Brayut, Wukirsari, Cangkringan. Ketika masih berada di Kalasan, kelompok ini bisa pentas dua kali seminggu. “Di Brayut susah untuk membujuk masyarakat agar mau menonton,” keluhnya.

Ketika masa jaya, ada 40 orang yang diboyong dari Kediri untuk pentas. Sekarang hanya tersisa tujuh orang yang mau memainkan lakon ketoprak. Dua orang di antaranya merupakan pasangan suami-istri yang disebut sebagai tobong asli. Pasangan itu sudah sejak berkiprah di Kediri ikut bersama Dwi.

Menurutnya, iklim penonton di Cangkringan tak lebih baik dari penonton di Kalasan. Bisa menghadirkan 20 orang untuk menonton sudah merupakan prestasi. “Tapi berapapun penontonnya, pentas tetap berlangsung,” kata pria dengan dua cucu itu.

Pentas biasanya dimulai pukul 20.00. Sebelumnya, para pemain berkumpul untuk bermusyawarah tentang cerita yang diangkat. Cerita tidak ada naskahnya. Hanya mengandalkan kemampuan improvisasi masing-masing pemain.

Dalam musyawarah itu, ditentukan juga peran masing-masing pemain. Lantas, setiap pemain dirias sesuai karakter lakon yang diperankan. Tak ada make up artist yang secara khusus mendandani para pemain. Semua dilakukan sendiri.

Apakah Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya akan pindah lagi? Dwi mengisyaratkan tidak akan terjadi lagi. Terlebih, semakin sulit untuk mendapatkan lahan. Selain itu, pindahan membutuhkan biaya operasional tinggi. “Penerimaan masyarakat juga tidak seperti dulu,” katanya.

Dia mengaku tetap akan berusaha mempertahankan keberadaan kethoprak tobongnya meski tidak menghasilkan keuntungan secara finansial. Dia percaya ketoprak tobong yang merupakan budaya daerah bakal kembali digemari masyarakat suatu saat nanti. “Tetapi saya mengamini, di tengah tergerus budaya elektronik, orang akan jenuh dan kembali ke klasik yaitu ketoprak,” ujarnya.

Pembenahan pun dilakukan. Di antaranya, menghadirkan lampu sorot dalam pementasan. Penampilan dikemas lebih menarik. Itu agar penonton kembali membanjir seperti dulu.

”Harapan saya kalau hidup berkembang itu di Jogjakarta. Oleh karena, Jogjakarta-lah kota budaya. Tetapi, andaikata mau mati bersama dengan ketoprak tobong yang lain, biarlah Jogjakarta menjadi kuburan daripada ketoprak kami, Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya,” ujarnya.

Saat ini pengelolaan ketoprak tobong itu diserahkan Dwi sepenuhnya kepada putranya, Risang Yuwono. Di tangan Risang, Dwi menitipkan harapan agar ketoprak tobong bisa berkembang. “Saya ini sudah tua. Biar yang muda yang meneruskan,” ucapnya. (har/amd)